Farida'Ch Blog

My Reflection and Creation in Chemical Education

Penggunaan Model Dalam Pembelajaran Kimia


PENDAPAT GURU DAN CALON GURU MENGENAI PENGGUNAAN MODEL DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Judul Jurnal : In-Service And Pre-Service Teachers’ Opinion On The Use Of Models In Teaching Chemistry

Oleh : Vesna Ferk Saveca, Margareta Vrtačnika, John K. Gilbert and Cirila Peklaj . Acta Chim. Slov. 2006, 53, 381–390

 I.   LATAR BELAKANG MASALAH

Kemampuan siswa dalam menguasai konsep kimia erat kaitannya dengan kemampuan menginterpretasikan ruang (spatial ability). Namun diduga masih banyak guru yang belum mengembangkan kemampuan tersebut. Oleh karena itu, melalui studi ingin diketahui bagaimana sudut pandang guru kimia dan calon guru mengenai penggunaan model molekul dalam pembelajaran. Adapun rumusan masalahnya adalah : a) Bagaimanakah pendapat guru dan calon guru mengenai perlunya penggunaan model molekular /kristal dalam pembelajaran kimia di SMA? ; b) Apakah alasan guru dan calon guru tidak menggunakan atau kurang menganggap penting penggunaan model molekular /kristal dalam pembelajaran kimia di SMA ?

II.  TINJAUAN TEORITIS

Dari berbagai penelitian diketahui bahwa model molekular dapat mengatasi kesulitan siswa pada area kemampuan menginterpretasikan ruang (spatial ability). Model molekular berperan penting untuk menghubungkan berbagai tingkat representasi konsep (Johnstone, 1991), yaitu tingkat makro, sub-mikro dan simbolik. Model 3D tradisional (molymod) memiliki fungsi yang sama dengan model 3D virtual (komputer). Banyak studi menyarankan untuk mengkombinasikan penggunaan kedua model tersebut, karena kedua-duanya sama-sama memiliki keunggulan dan kelemahan.

III. METODOLOGI

Subyek penelitian : 54 orang guru kimia SMA di Slovenia, dan 21 orang calon guru kimia dari Universitas Ljubjana dan Maribor. Instrumen berupa kuesioner untuk guru dan calon guru.  Data dari kuesioner pilihan ganda dihitung frekuensinya. Untuk pertanyaan terbuka: 14 kuesioner dipilih secara acak, ditranskripsikan, distrukturisasi sesuai kategori unit materi kurikulum, lalu diaplikasikan untuk seluruh responden.

IV. HASIL PENELITIAN

Pendapat guru: a) 52% guru meyakini kemampuan ‘visualisasi spatial’ penting dikembangkan dalam PBM mayoritas konten kimia, sedangkan 48% menyatakan hanya penting untuk beberapa konten kimia. 72% guru beralasan: kemampuan tsb  perlu untuk pemahaman struktur 3D molekul dan kristal, mengkaitkan pemahaman konsep dengan proses dan  menghubungkan struktur molekul dengan sifat-sifatnya;  b) Kemampuan ‘visualisasi spatial’ penting untuk mempelajari struktur materi (44%), struktur molekul organik (33%) dan reaktifitas molekul organik (11%); c) Model 3D tradisional digunakan 1x/bulan (50%), karena tidak  cukup tersedia ; model 3D virtual (komputer) belum pernah digunakan (72%),  karena tidak memiliki keterampilan dan kemungkinan mengakses komputer selama PBM; 54% guru menugaskan siswa belajar mandiri melalui web tentang model molekular. Calon guru menyatakan pendapat (a dan b) yang hampir sama dengan guru.

Calon guru menyatakan : a) berniat menggunakan model 3d jika menjadi guru (mayoritas) ; b) Warna (37%), ukuran (22%), bentuk dan konsistensi (11%) model berpotensi menimbulkan  miskonsepsi ; c) Mampu menggunakan program komputer untuk menggambar struktur dan stereokimia (52%) ; d) Model 3D virtual tidak pernah digunakan (62%), meskipun pernah melihatnya, dan berencana menggunakannya bila mereka bisa (57%).

V. KESIMPULAN

a)      Mayoritas  guru dan calon guru menyatakan  kemampuan ‘spatial’ siswa berperan penting  untuk mempelajari : struktur materi,  struktur dan reaktifitas molekul organik ; Mayoritas guru akan menggunakan model 3D tradisional lebih sering, jika jumlahnya mencukupi ;

b)      Literasi komputer calon guru dan guru masih lemah, karena masih kurang tersedia komputer untuk pembelajaran kimia, sehingga sebagian besar guru tidak dapat menggunakan software pemodelan 3D, namun demikian mereka berkeinginan meningkatkan kemampuannya dan mengaplikasikan dalam pembelajaran ;

c)      Mayoritas calon guru menyadari adanya rintangan dalam mengembangkan kemampuan ‘spatial’ siswa, karena model yang digunakan dapat berpotensi menimbulkan miskonsepsi.

VI. KOMENTAR

A. Keunggulan :

1) Latar belakang dan rumusan masalah cukup jelas ; 2) Metode penelitian dan instrumen penelitian cukup jelas ; 3) Hasil penelitian dan kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah

B. Kelemahan :

1) Guru yang menjadi subyek penelitian tidak dijelaskan telah berapa lama menjadi guru ; 2) Penelitian ini hanya menganalisis pendapat guru dan calon guru berdasarkan jawaban kuesioner saja, tidak ada wawancara terhadap subyek (perwakilan/sampel) lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hasil interpretasi data.

Jurnal : In-Service and Pre-Service Teachers` Optionion on the

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.205 pengikut lainnya

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.205 pengikut lainnya

Desember 2016
M S S R K J S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 138,094 hits

Arsip

Masukkan alamat E-mail Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.205 pengikut lainnya

My facebook

%d blogger menyukai ini: