Publikasi Karya Ilmiah


ID Scopus: 57196088078

https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57196088078

Berikut ini daftar karya ilmiah yang telah dipublikasikan oleh penulis. Anda dapat mendownlodnya dengan mengklik tautan yang disematkan pada setiap judul tulisan:

Analisis Buku Teks Kimia SMA Pada Konsep Kesetimbangan Kimia Ditinjau Dari Kriteria Representasi

The Importance of Development of Representational Competence in Chemical Problem Solving Using Interactive Multimedia

Profil keterampilan argumentasi siswa pada konsep koloid yang dikembangkan melalui pembelajaran inkuiri argumentatif

Pembelajaran Berbasis Web untuk Meningkatkan Kemampuan Interkoneksi Multiplelevel Representasi Mahasiswa Calon Guru pada Topik Kesetimbangan Larutan Asam-Basa

Project-Based Learning Design for Internalization of Environmental Literacy with Islamic Values (2017)

Designing Interactive Electronic Module in Chemistry Lessons (2017)

Learning Crude Oil by Using Scientific Literacy Comics (2017)

Volta-Based Cells Materials Chemical Multiple Representation to Improve Ability of Student Representation (2017)

Using Android-Based Educational Game for Learning Colloid Material (2017)

The development of an Augmented Reality (AR) technology-based learning media in metal structure concept (2017) Tautan asli:                        http://www.crcnetbase.com/doi/abs/10.1201/9781315166575-56

A web-based model to enhance competency in the interconnection of multiple levels of representation for pre-service teachers  (2017)  Tautan asli :   http://www.crcnetbase.com/doi/10.1201/9781315166575-84

Pengembangan Sikap Kreatif Siswa Pada Praktikum Penjernihan Air

The aplication of authentic assessment with feedback to improve the competence MTS Students in Constructing a Scientific Report of Motion Material in science learning

Pengembangan Prototype Reaktor dan Prosedur Eksperimen Pembuatan Biogas Skala Rumah Tangga Dari Sampah Organik Untuk Pembelajaran Kimia

Pengembangan bahan ajar pada materi Sel Volta berorientasi Multipel Representasi Kimia

Pengembangan Bahan Ajar pada Materi Laju Reaksi Berorientasi Multipel Representasi Kimia

Kemampuan Siswa Menghubungkan Tiga Level Representasi Melalui Model MORE (Model-Observe-Reflect-Explain)

E-Module Pembelajaran Minyak Bumi Berbasis Lingkungan Untuk Mengembangkan Kemampuan Literasi Kimia Siswa

Analisis Konsepsi Mahasiswa Terhadap Materi Elektrolisis Menggunakan Instrumen Tes Three Tier Multiple Choice

Pembuatan Media Pembelajaran Berupa Animasi Berbasis Komputer Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SMA/MA Kelas X Pada Mata Pelajaran Kimia Konsep Ikatan Kimia

Iklan

Tinjauan Teoritik Penilaian Otentik (Authentic Assessment) Pada Kurikulum 2013


By : Ida Farida, Ch

Terjadinya perubahan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 mengubah penggunaan istilah penilaian. Istilah penilaian berbasis kelas (PBK) seperti yang dinyatakan dalam oleh BNSP (2006) tidak lagi digunakan dalam kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, ada tiga fokus pengembangan kurikulum, yaitu  standar kompetensi lulusan, standar proses dan standar penilaian.

Permendikbud No.66 tahun 2013 mendeskripsikan adanya empat elemen perubahan dalam standar penilaian pendidikan, yaitu:  1) Penilaian berbasis kompetensi; 2) Pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja) menuju penilaian otentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil); 3) Penilaian tidak hanya pada level KD (kompetensi dasar), tetapi juga kompetensi inti dan SKL (standar kompetensi lulusan); 4) Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian dan penilaian mandiri oleh siswa.

Bila dicermati empat elemen perubahan dalam standar penilaian pendidikan pada kurikulum 2013 di atas tetap memiliki esensi yang sama dalam hal makna, tujuan dan fungsi sebagaimana yang dijelaskan dalam kurikulum 2006.

Berikut ini paparan yang disarikan dari Balitbang Depdiknas (2006) mengenai penilaian berbasis kelas atau penilaian kelas yang dianjurkan untuk diterapkan baik di tingkat pendidikan dasar maupun menengah :

1)      Dalam penilaian berbasis kelas, pengumpulan data sebagai informasi kemajuan belajar  baik formal maupun informal harus selalu dilaksanakan dalam suasana yang  menyenangkan. Hal ini memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya.

2)      Hasil belajar yang dicapai oleh siswa tidak untuk dibandingkan dengan hasil  belajar siswa lain ataupun prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau kemampuan yang dimiliki sebelumnya; atau       dengan kompetensi yang dipersyaratkan. Dengan  demikian  siswa  tidak  terdiskriminasi  dalam klasifikasi lulus atau tidak lulus, pintar atau bodoh, bisa masuk ranking berapa, dan  sebagainya, tetapi lebih diarahkan pada fungsi motivasi, dan bantuan agar siswa dapat mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.

3)      Pengumpulan  informasi  harus  dilakukan dengan menggunakan berbagai cara penilaian, dilakukan secara berkesinambungan sehingga gambaran kemampuan siswa dapat lebih lengkap terdeteksi, dan terpotret secara akurat.

4)      Dalam  pelaksanaannya  siswa  tidak  sekedar  dilatih  memilih  jawaban  yang tersedia,  tetapi lebih dituntut untuk dapat mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk  mengerahkan potensinya dalam  menanggapi  dan  memecahkan  masalah yang  dihadapi  dengan  caranya  sendiri  dan  sesuai  dengan  pengetahuan  dan kemampuan yang dimiliki.

5)      Proses pengumpulan informasi secara terencana,  bertahap, dan  berkesinambungan,  agar dapat ditentukan ada tidaknya kemajuan belajar  yang dicapai siswa dan perlu tidaknya siswa diberikan bantuan. Dengan demikian  siswa diberi kesempatan  memperbaiki prestasi belajarnya, dengan pemberian bantuan dan bimbingan yang sesuai.

6)      Penilaian dilaksanakan  ketika  proses belajar mengajar (PBM)  sedang  berlangsung  (penilaian  proses) dan setelah PBM.  Hasil kerja atau karya siswa dikumpulkan dalam portofolio. Karya tersebut  dapat juga bersumber dari PBM atau berasal dari berbagai kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan sekolah, kegiatan OSIS, kegiatan lomba antar sekolah, bahkan  kegiatan  hobi  pribadi.  Dengan  demikian,  penilaian  kelas  mengurangi dikhotomi antara PBM dan kegiatan penilaian serta antara kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

7)      Kriteria penilaian karya siswa dapat dibahas, dikompromikan antara guru dengan para   siswa   sebelum   karya   itu   mulai   dikerjakan. Dengan   demikian   siswa mengetahui   kriteria  yang  akan  digunakan  dalam penilaian,  agar  berusaha mencapai harapan (expectations) (standar yang dituntut) guru, dan mendorong siswa  untuk  mengarahkan  karya-karyanya  sesuai  dengan  kriteria  yang  telah disepakati.

Namun rincian target dan teknik penilaiannya tidak spesifik dan operasional sebagaimana yng dinyatakan dalam Permendikbud No.66 tahun 2013, yaitu target penilaian proses dan hasil belajar mencakup kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan dengan mengacu pada SKL, KI dan KD yang dideskripsikan dalam setiap jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA). Oleh karena itu jenis penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik.

Meskipun demikian, munculnya istilah penilaian otentik  bukanlah hal yang baru.  Pada awalnya istilah tersebut diperkenalkan oleh Wiggins tahun 1990 sebagai bentuk ketidak puasan terhadap bentuk tes yang dinamakan “paper and pencil test”, yaitu bentuk penilaian yang sangat umum digunakan di sekolah ..  mengisi titik-titik, tes tertulis, pilihan ganda, kuis jawaban singkat., karena penilaian seperti itu tidak akan menunjukkan kemampuan sebenarnya dari siswa,  Jadi dikatakan otentik dalam arti penilaian kemampuan siswa yang sesungguhnya dan realistis berdasarkan unjuk kerja/demonstrasi langsung langsung tentang penerapan pengetahuan dan keterampilannya.

Menurut Jon Mueller (2006), penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna.  Oleh karena itu penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja (performance based assessment) atau penilaian kinerja (performance assessment). Hal itu diperkuat oleh Stiggins (1994) (2006) bahwa penilaian otentik sinonim dengan penilaian kinerja (performance assessment).

Namun Meyer (1992) dan Marzano (1993) membedakan penggunaan kedua istilah tersebut, karena penilaian otentik harus dilakukan pada situasi yang nyata (pada proses belajar), sedangkan penilaian kinerja bisa saja dilakukan pada konteks yang diciptakan sengaja untuk mengukur keterampilan tersebut (misalnya : setelah proses belajar).

Penilaian otentik sering juga disebut sebagai alternative assessment digunakan karena merupakan alternatif dari penilaian yang biasa digunakan (traditional assessment). Beberapa ahli menyebutnya sebagai direct assessment, karena penilaian otentik menyediakan lebih banyak bukti langsung dari penerapan keterampilan dan pengetahuan. Ini berbeda dengan  seorang siswa dapat mengerjakan dengan baik tes pilihan ganda, maka secara tidak langsung (indirectly), siswa tersebut dapat menerapkan pengetahuan yang telah dipelajarinya dalam konteks dunia yang sesungguhnya.

Penilaian otentik dapat menilai target-target belajar berikut

1)      Penalaran: Target penalaran dan keterampilan memecahkan masalah dapat dinilai dengan penilaian kinerja  melalui pemberian masalah yang kompleks yang harus dipecahkan siswa. Siswa harus terlibat dalam berfikir dan proses penalaran yang melibatkan beberapa langkah.

2)      Keterampilan: Kekuatan penilaian kinerja adalah kemampuannya untuk menilai siswa dalam mempertunjukkan keterampilan-keterampilan tertentu: Aktivitas yang ditampilkan siswa dapat dijadikan target asesmen seperti keterampilan berkomunikasi ataupun keterampilan manual siswa

3)      Produk: Kekuatan lain dari penilaian kinerja adalah untuk menilai pencapaian daya cipta siswa yang berhubungan dengan produk. Kualitas produk menunjukkan hasil kinerja siswa berdasarkan standar tertentu. Produk dapat berupa paper, laporan penelitian, bentuk kerajinan dan produk-produk dari suatu keterampilan.

4)      Afektif : Aspek afektif seperti sikap, nilai, minat, motivasi, pilihan, dan konsep diri didasarkan pada tindakan siswa atau apa yang kita lihat pada produk yang diciptakan siswa, maka dari itu penilaian kinerja dapat digunakan pula untuk menilai aspek-aspek afektif.

Dalam menggunakan penilaian kinerja terdapat asumsi pokok yang harus diyakini guru, yaitu: 1) Partisipasi aktif siswa; 2) Tugas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran; 3) Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran; 4) siswa turut berupaya dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Penilaian otentik yang dimaksud dalam kurikulum 2013 meliputi kombinasi  berbagai jenis penilaian, yaitu:  penilaian sikap dan kinerja/keterampilan siswa melalui pengamatan (menggunakan lembar pengamatan), penilaian sikap melalui penilaian diri dan penilaian antar teman,penilaian melalui tugas-tugas (task) yang diberikan pada proses dan setelah pembelajaran, tes tertulis dan lisan serta penilaian portofolio.

Dengan demikian, berbagai jenis penilaian yang diuraikan di atas, dalam penilaian proses dan hasil belajar dilakukan secara komplementer (saling melengkapi) sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Tujuan penggunaan berbagai jenis penilain tersebut tak lain adalah agar mendapatkan gambaran yang faktual mengenai kompetensi siswa, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber data yang akurat dan valid dalam pengambilan keputusan pendidikan.

Penilaian otentik melibatkan dua komponen yang harus ada, yaitu suatu tugas (task) bagi para siswa (untuk menampilkan kinerja atau hasil karya), dan sebuah kriteria penilaian atau rubrik (rubrics) yang akan digunakan untuk menilai penampilan berdasarkan tugas tersebut.

Suatu tugas dianggap otentik apabila: (i) siswa diminta untuk mengkonstruk respons mereka sendiri, bukan sekedar memilih dari yang tersedia; (ii) tugas merupakan tantangan yang mirip (serupa) yang dihadapkan dalam (dunia) kenyataan sesungguhnya.

Baron’s (dalam  Marzano, 1993) mengemukakan lima kriteria task (tugas) untuk penilaian otentik, yaitu: 1) bermakna baik bagi siswa maupun bagi guru; 2) tdisusun bersama atau melibatkan siswa; 3) menuntut siswa menemukan dan menganalisis informasi sama baiknya dengan menarik kesimpulan tentang hal tersebut; 4 meminta siswa untuk mengkomunikasikan hasil dengan jelas; 5) mengharuskan siswa untuk bekerja (mengerjakan sesuatu).

Ada  lima dimensi yang perlu dipertimbangkan pada saat menyiapkan tugas, yaitu :1)  lama waktu pengerjaan tugas.; 2) jumlah tugas terstruktur yang perlu dilalui siswa.3)  partisipasi individu, kelompok atau kombinasi keduanya. 4) fokus evaluasi: pada produk atau pada proses. 5) keragaman cara-cara komunikatif yang dapat digunakan siswa untuk menunjukkan kinerjanya.

Tugas-tugas yang dirancang untuk penilaian otentik dapat berbentuk: Tes lisan (pertanyaan singkat, atau pertanyaan yang meminta respon tidak terbatas), penilaian kinerja kelompok, penilaian kinerja individual, wawancara, observasi, portofolio, proyek, dan pameran.

Dengan menggunakan penilaian kinerja, guru dapat mengamati siswa ketika mereka mempertunjukkan keterampilan mereka dan dapat menilai penalaran, keterampilan dan kreasi mereka dalam bentuk produk-produk yang mereka buat. Penilaian terhadap keterampilan dan produk didasarkan pada perbandingan performa/kinerja siswa dengan kriteria/standar. Penilaian kinerja tidak hanya dapat digunakan untuk menilai individu siswa tetapi juga kelompok siswa

Rubrik merupakan alat pemberi skor yang berisi daftar kriteria untuk sebuah pekerjaan atau tugas. Fungsi penggunaan rubrik penilaian kinerja  adalah sebagai acuan pengamatan dan kriteria pemberian nilai/skor kemampuan yang ditunjukkan oleh siswa. Penggunaan rubrik akan mengurangi subjektivitas penilai dalam melakukan penilaian.

Rubrik penilaian atau sering juga disebut rubrik penskoran tersebut merupakan skema penilaian deskriptif yang dilengkapi skala lajuan (rating scales), yang digunakan sebagai patokan dalam menganalisis produk maupun proses usaha/kinerja siswa. Rubrik berbeda dengan daftar ceklist, Rubrik merupakan format spesifik yang dirancang sebagai pedoman penskoran, yang terdiri atas kriteria penampilan spesifik (deskriptor) yang telah dirancang sebelumnya,  dan digunakan untuk menilai menilai kinerja siswa atau produk yang dihasilkan dari suatu tugas.

Deskriptor mengeksplisitkan tingkat kinerja siswa pada masing-masing level dari suatu penampilan. Contohnya seperti rumusan standar minimal dalam perumusan indikator soal. Deskriptor digunakan untuk memperjelas harapan atau aspek yang dinilai. Selain itu deskriptor juga membantu penilai (rater) lebih konsisten dan lebih obyektif. Bagi guru yang melaksanakan penilaian otentik atau kinerja, deskriptor membantu memperoleh umpan balik yang lebih baik.

Dengan demikian di dalam rubrik penilaian termuat deskripsi eksplisit tentang karaktersitik penampilan atau kinerja tertentu (deskriptor) yang menunjukkan kualitas kinerja yang diharapkan menurut rentang skala, atau definisi tentang suatu titik skor tertentu pada skala.

(Bersambung …)

Analisis Konsep Pada Pengembangan Pembelajaran Kimia


Untuk menentukan konsep-konsep yang dikembangkan dalam pembelajaran diperlukan  analisis konsep . Hasil analisis konsep dapat digunakan antara lain untuk :

  • merencanakan urutan  pembelajaran konsep
  • tingkat-tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dikuasai oleh siswa
  • menentukan metode  dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik konsep

Baca lebih lanjut

Representational Competence’s Profile of Pre-Service Chemistry Teachers In Chemical Problem Solving


Artikel download di link ini : Representational_Competence_s_Profile_of

Ida Farida, Liliasari, Dwi H. Widyantoro and Wahyu Sopandi  

Abstract :

A preliminary study on the possibility of developing representational competence pre-service chemistry teachers have been done. The aim of this descriptive study was to provide description about representational competence’s profile of pre-service chemistry teachers in chemical problem solving and to give consideration about the learning strategy have been conducted. The results showed that most students were unable to provide explanations relating to the representation of sub-microscopic level, which exist between the macroscopic and symbolic levels of representation. There were tendency those students solved problems using a transformation from the macroscopic to the symbolic level of representation and vice versa. Although they should give explanation at sub-microscopic level of representation, they did not understand the role of sub-microscopic representation to explain the macroscopic level or transformed into symbolic level. Presumably, the lack of student representation competence, because the lectures were held tend to separate the three levels of representation and influence the learning process which they experienced in senior high school. Those problems need serious efforts to find solution.

Key Words : Representational competence, three levels of chemical representation, chemical problem solving

Baca lebih lanjut