Representational Competence’s Profile of Pre-Service Chemistry Teachers In Chemical Problem Solving


Artikel download di link ini : Representational_Competence_s_Profile_of

Ida Farida, Liliasari, Dwi H. Widyantoro and Wahyu Sopandi  

Abstract :

A preliminary study on the possibility of developing representational competence pre-service chemistry teachers have been done. The aim of this descriptive study was to provide description about representational competence’s profile of pre-service chemistry teachers in chemical problem solving and to give consideration about the learning strategy have been conducted. The results showed that most students were unable to provide explanations relating to the representation of sub-microscopic level, which exist between the macroscopic and symbolic levels of representation. There were tendency those students solved problems using a transformation from the macroscopic to the symbolic level of representation and vice versa. Although they should give explanation at sub-microscopic level of representation, they did not understand the role of sub-microscopic representation to explain the macroscopic level or transformed into symbolic level. Presumably, the lack of student representation competence, because the lectures were held tend to separate the three levels of representation and influence the learning process which they experienced in senior high school. Those problems need serious efforts to find solution.

Key Words : Representational competence, three levels of chemical representation, chemical problem solving

Baca lebih lanjut

Iklan

The Importance Of Development Of Representational Competence In Chemical Problem Solving Using Interactive Multimedia



IDA FARIDA

Program Studi Pendidikan Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Email : farchemia65@gmail.com

ABSTRACT

This paper examined  various literature to describe the importance of development of representational competence within the context of chemical problem solving.  Problem solving ability is one of  high order thinking skills using representational competence. Representational competence is ability to connection  each level of  multiple representations  in chemistry.  Students can use chemical multiple representations to solve problems if they are able to formulate a mental image of objects or processes at the submicroscopic level that cannot be physically observed, relate them to macroscopic phenomena and express them in symbolic representation, or vice versa.  Submicroscopic representation is a key factor in chemical multiple representations. The inability to represent aspects submicroscopic can hinder the ability to solve problems related to the phenomenon of macroscopic and symbolic representations.  Students generally have difficulty in chemistry due to the inability to represent and give explanations about the structure and processes at the level submicroscopic. Optimal effort to develop this ability can be done   using multimedia that integrates the three levels of chemical representations.

Keywords: representational competence, chemical multiple representation, problem solving, the three levels of chemical representations, interactive multimedia.

Baca lebih lanjut

Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Memahami Konsep Beda Potensial, Meningkatkan Keterampilan Berpikir Rasional Dan Keterampilan Proses Sains Siswa


(Suatu Studi Pengembangan Pengetahuan Kimia Pada SLTP Negeri Di Bandung)

Oleh : Dra. Ida Farida, M.Pd.

ABSTRAK

Penelitian ini bertitik-tolak pada perlunya memperkenalkan pengetahuan kimia kepada siswa SLTP untuk memahami prinsip kerja batu baterai, sel aki dan sel Volta. Pada sumber arus listrik searah ini terjadi perubahan energi kimia menjadi energi listrik. Untuk itu dirancang model pembelajaran untuk memahami timbulnya beda potensial, bila dua logam berlainan jenis dicelupkan ke dalam larutan elektrolit berupa buah-buahan/umbi. Melalui metode penelitian kelas, model diimplementasikan terhadap 39 orang siswa SLTP kelas III oleh guru fisika kelas tsb. Dari analisis data hasil belajar terhadap t0,95(38) = 2,024, ternyata model dapat: (1) meningkatkan pemahaman konsep (thitung=15,523); (2) meningkatkan KBR pada aspek mengamati (t=11,381), mengklasifikasi (t=2,913) dan menggeneralisasi (t=3,764); (3) meningkatkan KPS pada aspek mengklasifikasi (t=2,913), menafsirkan (t=4,873), dan memprediksi (t=6,851). Siswa dan guru memberikan tanggapan positif terhadap model. Ditemukan terjadinya dissonansi kognitif pada siswa akibat kekeliruan penggunaan istilah katode dan anode oleh guru fisika dan pada buku-buku teks fisika SLTP. Sehingga disarankan: (1) pengetahuan kimia perlu diperkenalkan kepada siswa untuk memahami konsep-konsep fisika atau biologi di SLTP yang relevan (2) para guru fisika dan penulis buku teks fisika SLTP perlu memahami kembali perbedaan prinsip kerja sel elektrokimia dengan sel elektrolisis.

Kata kunci : model pembelajaran, pengetahuan kimia di SLTP, pemahaman konsep beda potensial, keterampilan berpikir rasional, keterampilan proses sains.

Baca lebih lanjut

Model Pembelajaran Kimia Dan Pengembangannya


Tulisan ini merupakan sebagian dari tinjauan teoritis (bab II) dari tesisku yang berjudul :

MODEL PEMBELAJARAN SUMBER ARUS LISTRIK SEARAH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR RASIONAL DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA (Suatu Studi Pengembangan Pengetahuan Kimia Pada  SLTP Negeri di Bandung). TESIS. SPS UPI Bandung. 2002

A. . Pengertian Dan Jenis-jenis Model Pembelajaran

Terjadinya perubahan pandangan terhadap belajar dari pandangan behaviorisme menjadi konstruktivisme secara langsung berpengaruh terhadap proses pembelajaran sains. Pembelajaran mengandung makna yang lebih luas yaitu mencakup upaya siswa untuk membangun pengetahuan. Siswa dipandang telah memiliki gagasan-gagasan sendiri mengenai berbagai fenomena alam yang diperoleh selama berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar bukan berarti mengisi pikiran siswa dengan pengetahuan-pengetahuan baru, tapi belajar dipandang sebagai perubahan konseptual, mengkonstruksi dan menerima gagasan baru atau merestrukturisasi gagasan-gagasan yang telah ada. Siswa secara aktif memperbaharui pemahamannya melalui pengalaman-pengalaman belajar. (Bell, 1993).

Baca lebih lanjut

Untuk Apa Belajar Ilmu Kimia ?


UNTUK APA BELAJAR ILMU KIMIA ?

By : Ida Farida –

Ilmu kimia merupakan salah satu rumpun bidang IPA yang memfokuskan mempelajari materi dan energi ditinjau dari segi sifat-sifat, reaksi, struktur, komposisi dan perubahan energi yang menyertai reaksi.

Berbagai teori dan temuan dalam sains kimia direfleksikan dengan representasi makroskopis, mikroskopis, dan simbolis.

Representasi merupakan bahasa bagi sains kimia. Ahli-ahli kimia menggunakannya untuk berkomunikasi dan untuk mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan proses atau metode ilmiah.

Baca lebih lanjut

KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA PEMBELAJARAN IDENTIFIKASI ZAT ADITIF BERBAHAYA DALAM MAKANAN


(Penelitian Kelas Terhadap Siswa Kelas VII Madrasah Tsanawiyah Di Karawang)

Oleh : Ida Farida Ch, Wawan Wahyu dan Siti Kholisoh

ABSTRAK

Penelitian ini dilandasi oleh keprihatinan terhadap maraknya penyalahgunaan zat aditif berbahaya pada makanan dan minuman, sedangkan banyak siswa belum mengetahui bahaya dan cara mengidentifikasi makanan yang mengandung zat aditif, seperti formalin, boraks, methanil yellow dan rodhamin-B. Siswa seharusnya dapat selektif memilih makanan, agar sesuai dengan  kriteria makanan menurut Islam, yaitu halal dan bermanfaat. Oleh karena itu, dilakukan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan siswa mengidentifikasi zat aditif dalam makanan dan minuman. Untuk mengoptimalkan pembelajaran siswa dilatih untuk menguasai keterampilan proses sains melalui metode pembelajaran praktikum dan demonstrasi. Penelitian dengan metode penelitian kelas ini dilakukan terhadap siswa kelas VII salah satu Madrasah Tsanawiyah di Karawang.  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan  bahwa   siswa telah menguasai dengan baik keterampilan proses sains yang dilatihkan pada aspek;  merencanakan, mengamati, mengelompokkan, interpretasi dan komunikasi. Namun sebagian besar siswa kurang terampil pada aspek penggunaan alat dan bahan.  Terjadi perubahan sikap pada sebagian besar siswa dalam memilih makanan/jajanan, yaitu bersikap lebih selektif dan hati-hati, serta tumbuh rasa kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan diri, keluarga, dan orang lain. Berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran mendapat tanggapan yang positif.

Kata kunci ; pembelajaran, keterampilan proses sains, zat aditif berbahaya.

Baca lebih lanjut