Publikasi Karya Ilmiah


ID Scopus: 57196088078

https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57196088078

Berikut ini daftar karya ilmiah yang telah dipublikasikan oleh penulis. Anda dapat mendownlodnya dengan mengklik tautan yang disematkan pada setiap judul tulisan:

Analisis Buku Teks Kimia SMA Pada Konsep Kesetimbangan Kimia Ditinjau Dari Kriteria Representasi

The Importance of Development of Representational Competence in Chemical Problem Solving Using Interactive Multimedia

Profil keterampilan argumentasi siswa pada konsep koloid yang dikembangkan melalui pembelajaran inkuiri argumentatif

Pembelajaran Berbasis Web untuk Meningkatkan Kemampuan Interkoneksi Multiplelevel Representasi Mahasiswa Calon Guru pada Topik Kesetimbangan Larutan Asam-Basa

Project-Based Learning Design for Internalization of Environmental Literacy with Islamic Values (2017)

Designing Interactive Electronic Module in Chemistry Lessons (2017)

Learning Crude Oil by Using Scientific Literacy Comics (2017)

Volta-Based Cells Materials Chemical Multiple Representation to Improve Ability of Student Representation (2017)

Using Android-Based Educational Game for Learning Colloid Material (2017)

The development of an Augmented Reality (AR) technology-based learning media in metal structure concept (2017) Tautan asli:                        http://www.crcnetbase.com/doi/abs/10.1201/9781315166575-56

A web-based model to enhance competency in the interconnection of multiple levels of representation for pre-service teachers  (2017)  Tautan asli :   http://www.crcnetbase.com/doi/10.1201/9781315166575-84

Pengembangan Sikap Kreatif Siswa Pada Praktikum Penjernihan Air

Analisis Bahan Ajar Sel Volta pada Buku Teks Kimia
SMA/MA Berdasarkan Kriteria Keterhubungan
Representasi Kimia 

The aplication of authentic assessment with feedback to improve the competence MTS Students in Constructing a Scientific Report of Motion Material in science learning

Pengembangan Prototype Reaktor Dan Prosedur Eksperimen Pembuatan Biogas Skala Rumah Tangga Dari Sampah Organik Untuk Pembelajaran Kimia

Pengembangan bahan ajar pada materi Sel Volta berorientasi Multipel Representasi Kimia

Pengembangan Bahan Ajar pada Materi Laju Reaksi Berorientasi Multipel Representasi Kimia

Kemampuan Siswa Menghubungkan Tiga Level Representasi Melalui Model MORE (Model-Observe-Reflect-Explain)

E-Module Pembelajaran Minyak Bumi Berbasis Lingkungan Untuk Mengembangkan Kemampuan Literasi Kimia Siswa

Analisis Konsepsi Mahasiswa Terhadap Materi Elektrolisis Menggunakan Instrumen Tes Three Tier Multiple Choice

Pembuatan Media Pembelajaran Berupa Animasi Berbasis Komputer Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SMA/MA Kelas X Pada Mata Pelajaran Kimia Konsep Ikatan Kimia

Iklan

Larutan Penyangga Berdasarkan Tinjauan Representasi Submikroskopik


Oleh :  Ida Farida Ch

Larutan penyangga sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam pengaturan pH pada sistim biologi.

I. Komponen Larutan Penyangga
Larutan penyangga dapat berupa;
1)  larutan penyangga asam, komponennya : asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A)
2) larutan penyangga basa,  komponennya : basa lemah (B) dan asam konjugatnya (BH+).
Secara makroskopik terdapat perbedaan yang nyata antara larutan yang hanya mengandung asam lemah (HA) dengan larutan penyangga dengan komponen asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A) , meskipun spesi-spesi utama yang terkandung dalam ke dua larutan itu sama.
II. Prinsip Kerja Larutan Penyangga
Cara kerja larutan penyangga  dapat dijelaskan dengan melalui fenomena yang dikenal sebagai pengaruh ion senama atau common-ion effect (Silberberg, 2009 ; Mc Murry & Fay, 2012).  Contohnya : pengaruh ion senama yang terjadi  ketika  ke dalam asam asetat yang terdisosiasi dalam air ditambahkan sejumlah natrium asetat. Asam asetat hanya sedikit terdisosiasi dalam air, seperti dinyatakan dalam persamaan berikut ini :

CH3COOH (aq) + H2(l)⇄  CH3COO (aq) +  H3O (aq)        

Natrium asetat menyuplai ion senama, yaitu ion CH3COO–  ke dalam sistem kesetimbangan tersebut. Penambahan ion senama CH3COO–  akan menggeser posisi kesetimbangan ke arah pembentukan kembali reaktan (ke kiri), sedangkan konsentrasi ion H3O+ menurun, sebagai efek untuk menurunkan   terjadinya disosiasi asam.

Hal yang sama terjadi, jika sejumlah asam asetat dilarutkan dalam larutan natrium asetat (atau ion asetat dan ion H3Odari asam asetat masuk ke dalam larutan garam natrium asetat).  Ion-ion asetat yang sudah ada dalam larutan bertindak ‘menekan’ disosiasi asam, sehingga disosiasinya menjadi tak sebanyak bila dalam air murni.  Karena itu, konsentrasi ion H3O+ dalam larutan tetap rendah (pH tinggi).   Efek menurunkan atau ‘menekan’ terjadinya disosiasi asam asetat oleh ion asetat yang ditambahkan itulah yang disebut dengan pengaruh ion senama (common ion effect).

Berikut ini diagram  yang menjelaskan pengaruh ion senama terhadap kesetimbangan disosiasi asam asetat.
larutan penyangga prinsip kerja

Gambar 1. Prinsip kerja larutan penyangga

Bila larutan penyangga ditambahkan sedikit asam kuat ataupun basa kuat (ion H3O+atau OH), pH larutan cenderung tidak mengalami perubahan, hingga kapasitas penyangga tertentu. Pengaruh penambahan ion H3O+ atau ion OH digambarkan melalui diagram berikut ini :

lar penyangga

Gambar 2 . Representasi submikroskopik dan simbolik cara kerja larutan penyangga (diadaptasi dari Silberberg, 2009)

III. Kapasitas Penyangga

Kemampuan larutan penyangga untuk tetap dapat mempertahankan pH disebut kapasitas larutan penyangga. Kemampuan ini tergantung pada   harga pKa dan jumlah molar relatif dari pasangan asam-basa konjugat. Penting untuk diperhatikan bahwa pH larutan penyangga berbeda dengan kapasitas penyangga. Suatu larutan penyangga yang dibuat dari volume yang sama 1,0 M CH3COOH dan  1,0 M CH3COO  memiliki pH yang sama dengan larutan penyangga yang dibuat dari volume yang sama 0,1 M CH3COOH dan  0,1 M CH3COO , yaitu 4,7. Namun demikian, larutan penyangga yang lebih pekat memiliki kapasitas penyangga yang lebih besar.

Kapasitas penyangga dipengaruhi oleh konsentrasi relatif dari komponen penyangga. Suatu larutan penyangga paling efektif jika perbandingan konsentrasi asam lemah dan basa konjugat = 1. Larutan penyangga dapat efektif pada rasio konsentrasi asam-basa berada pada kisaran: 0,1 < [basa konjugat]:[asam] < 10. Dengan menggunakan persamaan Henderson-Hasselbalch dapat dihitung pH maksimum dan minimum yaitu pada kisaran pH = pKa ± 1.

pH = pKa + log [basa konjugat]/[asam lemah]

Jadi ketika memilih suatu asam untuk membuat larutan penyangga, maka dipilih salah satu asam yang memiliki harga pKmendekati pH yang diinginkan.

Perhitungan pH larutan Penyangga digambarkan dalam diagram berikut ini :

perhitungan buffer

Gambar 3. Bagan perhitungan pH larutan penyangga

 

Kesetimbangan Larutan Asam dan Larutan Basa


Oleh: Ida Farida Ch

Kesetimbangan larutan asam-basa merupakan konsep yang mendeskripsikan bagaimana perilaku spesi-spesi asam dan basa dalam pelarut air.
Ketika suatu asam atau basa dilarutkan dalam air, cara yang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah dengan memandangnya sebagai suatu reaksi kesetimbangan asam-basa dengan merujuk pada konsep asam-basa Bronsted-Lowry.
Berdasarkan konsep Bronsted-Lowry,  dapat diprediksi kecenderungan sifat asam-basa dan kekuatan relatif asam-basa.
Menurut konsep Bronsted-Lowry : Reaksi asam-basa merupakan reaksi transfer proton dari satu spesi/partikel ke spesi/partikel lain.
Ada tiga jenis reaksi reversible asam dan basa yang melibatkan terjadinya reaksi transfer proton, yaitu :

I.  Autoionisasi air 
Reaksi transfer proton yang terjadi antara molekul-molekul air menghasilkan ion hidronium dan ion hidroksida.   Berikut ini visualisasi terjadinya   Reaksi transfer proton pada autoionisasi air (klik link video https://youtu.be/dAMx_vB6_4E).
Persamaan reaksi  autoionisasi air : H2(l) + H2(l)  ⇄  H3O+ (aq) + OH–   (aq).  
Dengan demikian, di dalam air murni terkandung molekul-molekul H2O, ion-ion H3Odan  OH–  yang terhidrasi dalam pelarut air (tanda aq: menunjukkan bahwa ion-ion tersebut terhidrasi dalam pelarut air). Oleh karena, diketahui harga tetapan kesetimbangan air (Kw ) pada suhu 25oC adalah 10-4 maka konsentrasi ion H3Odan  OH–  dalam  air  adalah 10-7 M.

II. Reaksi disosiasi asam:

Reaksi transfer proton antara asam dengan air menghasilkan basa konjugat dan ion hidronium.  Visualisasi reaksi transfer proton pada disosiasi asam dapat dilihat dihttps://youtu.be/d8enF2tdGww (klik link)

Persamaan reaksi umum : HA + H2(l)  ⇄   H3O(aq)  +  A(aq)

III. Reaksi disosiasi basa: 
Reaksi transfer proton antara  basa dengan air menghasilkan asam konjugat dan ion hidroksida. Visualisasi reaksi transfer proton pada disosiasi basa dapat dilihat di https://youtu.be/6NhET8rdMDQ (klik link)
Persamaan reaksi umum : B   +  H2(l)  ⇄    BH+  (aq)  + OH–  (aq).

Dengan menggunakan nilai tetapan kesetimbangan disosiasi asam (Ka) dan tetapan kesetimbangan disosiasi basa (Kb), dapat diprediksi ke arah mana reaksi transfer proton lebih dominan berlangsung dan kekuatan relatif pasangan asam-basa Bronsted –Lowry.
Semakin kecil harga Ka atau Kb menunjukkan reaksi lebih dominan berlangsung ke arah pembentukan kembali reaktan. Sebaliknya semakin besar harga Ka dan Kb menunjukkan reaksi lebih dominan berlangsung ke arah pembentukan produk. Semakin besar nilai Ka, maka semakin kuat sifat keasamannya. Demikian pula semakin besar nilai Kb semakin kuat sifat basanya. Jadi, baik asam kuat maupun basa kuat harga Ka dan Kb sangat besar (K>>1) atau hampir 100% (seluruhnya) terurai membentuk ion-ion.

Berdasarkan berbagai penelitian, sering terjadi miskonsepsi mengenai kekuatan asam. Siswa menggunakan kriteria nilai pH dari larutan untuk membedakan asam lemah dan asam kuat. Untuk menghindarkan hal tersebut, larutan asam kuat dan asam lemah dapat dibedakan dengan cara merepresentasikan level submikroskopik menggunakan diagram model molekul bola padat yang dihubungkan dengan level makroskopik dan submikroskopik seperti pada gambar berikut ini :

asbas

Gambar 1. Tiga level representasi larutan asam kuat dan asam lemah
(diadaptasi dari Brown dan Bursten, 2009)
Catatan : Untuk menghindari keruahan pada representasi di atas, molekul-molekul air pelarut tidak ikut digambarkan. Spesi-spesi yang digambarkan dalam representasi tersebut hanya spesi yang mengalami perubahan (rasio) setelah proses transfer proton berlangsung, yaitu molekul HA, ion A dan ion H3O+. 

Gambar berikut ini (gambar 2), juga dapat digunakan untuk memvisualisasikan konsep kekuatan asam :
asam basa lngkp

Kesetimbangan Kelarutan – Ksp


Pada umumnya zat elektrolit larut sempurna dalam air, tetapi beberapa garam dan basa tertentu sukar larut dalam air.  Zat elektrolit sukar larut mengalami kesetimbangan dinamis antara ion-ion terlarut dan zat padat yang tak larut. Kesetimbangan ini disebut kesetimbangan kelarutan.
Contoh:
Larutan jenuh garam CaF2  berada dalam keadaan terdisosiasi sebagai ion-ion terhidrasi Ca2+(aq) dan F(aq).

Berikut ini digambarkan representasi makroskopik dan submikroskopik larutan CaF2 jenuh:

LAR JENUH

Gambar 1. Representasi level makroskopik dan submikroskopik larutan jenuh CaF2 (Mc Murry & Fay, 2006)

Pada keadaan kesetimbangan, berapapun banyaknya zat  yang dilarutkan, konsentrasi ion-ion tetap konstan, karena secara bersamaan terjadi proses disosiasi kristal  CaF2 menjadi Ca2+ (aq) dan  F (aq) dan proses terbentuknya kembali kristal-kristal padat CaF2.
Persamaan reaksi kesetimbangan larutan jenuh CaF2 dituliskan sebagai berikut :
CaF2 (s)  ⇄  Ca2+(aq)+ 2F (aq).
Pada keadaan jenuh, hasil kali konsentrasi molar ion-ion terlarut dipangkatkan koefesiennya masing masing disebut Ksp (disebut juga konstanta hasil kali kelarutan). Untuk persamaan reaksi  di atas harga Ksp = [Ca2+] . [F]2

Contoh lain :  Perak kromat (Ag2CrO4) merupakan contoh garam yang sukar larut dalam air. Jika kita memasukkan sedikit saja kristal garam itu ke dalam segelas air kemudian diaduk, kita akan melihat bahwa sebagian besar dari garam itu tidak larut (mengendap di dasar gelas).
Larutan perak kromat mudah sekali jenuh, setelah mencapai keadaan jenuh, proses melarut (terhidrasinya ion-ion garam oleh pelarut air) tidak terhenti dan pada saat yang sama terjadi proses pengkristalan  (dengan laju yang sama).
Dengan kata lain, dalam keadaan jenuh terdapat kesetimbangan antara zat padat tak larut dengan larutannya (ion-ion yang larut).

Kesetimbangan dalam larutan jenuh perak kromat adalah sebagai berikut:

Ag2CrO(s)   ⇄    2Ag+ (aq) + CrO42- (aq)

Secara umum, persamaan kesetimbangan larutan garam AxBy sebagai berikut:
AxB(s)  ⇄   xAy+ (aq) + yBx- (aq)          Ksp = [Ay+]x [Bx-]y

QUOTION REAKSI  (Qc) = Hasil kali ion-ion zat terlarut
Quotion reaksi (Qc) merupakan hasil kali konsentrasi molar awal dari ion-ion dalam larutan dengan asumsi zat terionisasi sempurna. Harga Qc dapat digunakan untuk menentukan ke mana arah reaksi harus berlangsung agar mencapai kesetimbangan, yaitu :
Qc < Ksplarutan belum jenuh, karena semua zat padat elektrolit terlarut.  Kesetimbangan tercapai bila konsentrasi ion-ion dinaikkan, hingga Qc = Ksp

Qc = Ksp, larutan dalam keadaan kesetimbangan (larutan jenuh).

Qc > Ksp, terjadi pengendapan. Kesetimbangan dapat tercapai dengan  menurunkan  konsentrasi ion-ion terlarut hingga Qc = Ksp.
Seringkali terjadi pengertian yang keliru pada saat Qc > Ksp .Banyak buku teks pada kondisi tersebut menyatakan larutan berada dalam keadaan lewat jenuh.  Tentu saja hal tersebut keliru, mengapa demikian ?
Keadaan larutan lewat jenuh hanya dicapai jika, pada saat Qc > Ksp ,  secara  perlahan larutan dinaikkan suhunya sampai zat-zat melarut kembali, kemudian ditambahkan lagi zat terlarut terus menerus (sambil terus dinaikkan suhunya) sehingga tercapai keadaan larutan benar-benar jenuh dengan zat terlarut.
Jika larutan  lewat jenuh kembali pada suhu kamar, akan terbentuk kristal-kristal. teknik ini sering dimanfaatkan untuk menghasilkan kristal-kristal garam yang indah bentuknya.
Kondisi larutan jenuh dan belum jenuh dapat dibedakan secara submikroskopik dengan bantuan simulasi yang dapat diunduh gratis pada link berikut ini :

Simulasi Kesetimbangan Kelarutan

soluble-salts-600

PENGARUH ION SENAMA DAN pH
Sebagai suatu reaksi kesetimbangan, kesetimbangan kelarutan dipengaruhi oleh ion-ion senama dan pH larutan, sehingga mempengaruhi pula kelarutan zat padat elektrolit yang bersangkutan.
Contoh pada reaksi : CaF2 (s)  ⇄  Ca2+(aq)+ 2F (aq).
Penambahan ion Ca2+  ataupun ion F ke dalam larutan, akan menggeser arah kesetimbangan ke arah pembentukan padatan CaF2 (s) atau memperkecil jumlah ion-ion terlarut dalam larutan (memperkecil kelarutan.
Jadi penambahan ion senama akan memperkecil kelarutan. Namun tidak mempengaruhi harga tetapan hasil kali kelarutan, asal suhu tidak berubah.

Pengaruh pH terhadap kelarutan dapat dilihat pada gambar 2.  berikut ini :

lar jenuh 2

Silakan didiskusikan, jika ada hal-hal yang perlu penjelasan lebih lanjut.
Semoga bermanfaat.
Definisi :
  •  Kesetimbangan Kelarutan : Pada kesetimbangan  kelarutan terjadi  kesetimbangan dinamis antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya yang terlarut dalam larutan jenuh.
  • Ksp menyatakan  ukuran terjadinya kesetimbangan antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya dalam larutan jenuh. Ksp dihitung dari  hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut dipangkatkan koefisien reaksi pada keadaan  larutan jenuh.
  • Larutan jenuh merupakan larutan yang mengalami kesetimbangan kelarutan, harga Ksp = Qc
  • Qc menyatakan  hasil kali konsentrasi molar awal dari ion-ion terlarut dalam larutan elektrolit dipangkatkan koefisien reaksi.
  • Kelarutan merupakan jumlah maksimum  suatu zat terlarut yang dapat larut dalam sejumlah pelarut  pada suhu tertentu

LOGIKA: Sebagian dari 1000 Kesalahan Berlogika


Hariyanto Imadha: EksMa Fakultas Filsafat UGM


TAHUN 1980 hingga 1990, secara sambil lalu saya melakukan survei tentang cara berlogika dari masyarakat, terutama dari kalangan mahasiswa dan sarjana. Sambil lalu, semuanya saya catat hingga saya menemukan 1.000 kesalahan berlogika. Semua saya simpan di CD. sayang, banjir besar yang melanda Bojonegoro akhir 2007 / awal 2008 menyebabkan CD rusak dan hanya sebagian artikel saja yang terselamatkan. Yaitu, seperti yang bisa Anda baca di bawah iini (sebagian merupakan penemuan-penemuan baru). Istilah-istilah dalam bahasa Yunani saya ganti dalam bahasa Inggeris.

CATATAN:
1.Tulisan ini disusun berdasarkan makalah kuliah, referensi, pengamatan dan pengalaman sehari-hari. Tulisan ini layak dibaca untuk mereka yang suka ngeyel. Dari 1000 Kesalahan berlogika, hanya 160 kesalahan saja yang saya publikasikan secara gratis

2.Slah satu penyebab keterpurukan bangsa Indonesia yaitu, keputusan-keputusan yang diambil (terutama oleh para pemimpin bangsa) menggunakan konstruksi logika yang salah.

Antara lain:

1.Category Logic Error:
Kesalahan berlogika akibat salah menerapkan kategori

Contoh:
Banyak sarjana beranggapan bahwa…

Lihat pos aslinya 9.050 kata lagi

Analisis Buku Teks Kimia SMA Pada Konsep Kesetimbangan Kimia Ditinjau Dari Kriteria Representasi


Rita Sugiarti* dan Ida Farida, Ch.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia : ISBN 978-602-19655-4-2

File Proseding Download di link ini: Rita sugiarti

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis buku teks kimia SMA pada konsep kesetimbangan kimia menggunakan lima kriteria representasi buku dari  Gkitzia, et al yaitu jenis representasi (R1);  fitur interpretasi (R2): keterkaitan teks, (R3): keberadaan keterangan gambar (R4):, derajat keterhubungan antara komponen multiple representasi (R5). Sebagai buku standar digunakan buku teks kimia “Chemistry” karangan Mc Murry. Analisis dilakukan terhadap  Buku Sekolah Elektronik Kimia (buku A), dan buku kimia yang banyak digunakan sebagai buku pengayaan (buku B). Hasil analisis menunjukkan: dari segi representasi gambar, buku A memuat tiga representasi dengan jenis (R1) makroskopik  (33%) dan multiple (67 %) ; fitur  eksplisit, implisit dan  ambigu sebanding (R2 33%);  keterkaitan teks  (R3  66%), keterangan sesuai (R4 66%) dan R5 tak terhubung (66%). Buku B, memuat  enam representasi dengan jenis (R1) makroskopik (17%);  submikroskopik (17%) dan multiple (66%), fitur eksplisit (R2 : 83%), keterkaitan teks (R3 83%),  keterangan sesuai (R4 83% ) dan R5 tidak terhubung (17%) .Dari segi kesesuaian representasi konsep, Kedua buku yang diteliti tidak menjelaskan fungsi nilai tetapan kesetimbangan Kc dan hanya buku B yang menjelaskan fungsi nilai Qc dan Kc.  Dibandingkan dengan buku A, buku B menyajikan konsep hampir sesuai dengan buku standar dan hampir memenuhi lima standar kriteria representasi buku. 

Bahaya Paparan Formalin Terhadap Tubuh


Abstrak

Formalin yang umum dikenal sebagai zat pengawet sediaan biologi atau mayat, banyak disalahgunakan untuk pengawet bahan makanan sehari-hari, seperti  mi basah, tahu, bakso, ikan asin, ayam potong, ikan laut dan beberapa makanan lainnya. Beberapa jenis peralatan rumah tangga yang terbuat dari plastic atau melamin, seperti mangkuk, pring dan gelas juga menggunakan formalin. Peralatan itu hanya aman digunakan dalam kondisi dingin. Pengaruh formalin terhadap system tubuh tergantung pada berapa lama dan berapa kadar yang terakumulasi dalam tubuh. Faktor imunitas tubuh juga ikut menentukan.Namun bagi usia bayi dan anak kecenderungan bahaya formalin semakin besar, karena system imun tubuhnya belum sempurna. Sifat oksidator formalin dapat merusak sel-sel tubuh sehingga menghambat metabolisme, bahkan dapat mengakibatkan pertumbuhan sel yang abnormal (kanker). Oleh karena itu penting sekali kemampuan memilih dan membedakan makanan atau peralatan makan yang aman.

I. PENDAHULUAN

            Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) di Jakarta  sejak tahun 2006 ditemukan sejumlah produk pangan seperti ikan asin, mi basah, ayam potong dan tahu  memakai formalin sebagai pengawet. Produk pangan berformalin itu dijual di sejumlah pasar dan supermarket di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, dan Bekasi. Temuan terbaru menyatakan bahwa beberapa produk permen susu dan makanan kecil kemasan/bermerk asal China juga mengandung formalin. Fakta ini tentu saja sangat menghawatirkan, karena formalin bukanlah zat aditif makanan, namun justru mengancam kesehatan. Produk-produk yang mengandung formalin itu tanpa sadar dikonsumsi masyarakat luas sehari-hari, karena tidak tahu bagaimana membedakan makanan berformalin ataukah tidak. Di samping itu dapat pula akibat ketidaktahuan dampak penggunaan formalin, zat ini masih luas dipergunakan. Dampak yang tak terlihat secara langsung ini juga membuat para produsen tidak peduli akan akibat jangka panjangnya. Akumulasi formalin terus-menerus dalam tubuh dapat berakibat fatal yang mengancam sistem keseimbangan tubuh.

Pada makalah ini akan dikaji mengenai formalin dan sifat-sifatnya dan bagaimana dampaknya bagi sistim tubuh. Dikaji pula bagaimana cara mengidentifikasi makanan yang mengandung formalin baik dengan cara sederhana maupun secara kimia. Diharapkan tulisan ini dapat lebih menyadarkan pihak-pihak tertentu yang menggunakan formalin dalam produk makanan agar tidak lagi menggunakannya. Terlebih dari itu konsumen dapat mewaspadai produk-produk yang mengandung formalin, sehingga dapat mengenali ciri-ciri produk yang berformalin.

 II. PENGGUNAAN FORMALIN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN PENYALAHGUNAANNYA

Formalin atau formaldehid adalah larutan tak berwarna, mudah larut dalam air, mudah menguap, dan mempunyai bau yang tajam. Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formaldehid. Formalin termasuk golongan aldehida suku pertama dengan rumus kimia ; H-CH=O

Formalin mempunyai banyak nama kimia diantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methyleneglycol.

Penggunaan formalin sudah sangat umum dalam kehidupan sehari-hari maupun industri. Zat ini sangat luas pemanfaatannya karena sifat oksidator yang cukup kuat  dari gugus aldehid (karboksil). Sifat oksidator inilah yang menyebabkan secara luas formalin digunakan untuk antiseptik, germisida, dan pengawet.

Sebagai anti bakteri atau pembunuh kuman (germisida), formalin dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Dalam industri, digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak.. Di bidang industri kayu sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood).

Larutan formalin yang sangat encer (<1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Temuan terbaru menyatakan penggunaan formalin juga ditemukan dalam pasta gigi merk tertentu yang diproduksi China.

Di industri perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Akibat penggunaan yang berlebihan, kemungkinan masih ada sisa-sisa formalin pada tubuh ikan dan bila tidak dibersihkan secara seksama dapat ikut termakan.

Beberapa sumber menyatakan bahwa formalin juga sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Namun penggunaannya perlu hati-hati karena zat ini juga sangat beracun bagi ikan. Kadang-kadang ikan yang diobati malah menjadi mati bukan karena penyakitnya, tapi karena ambang batas aman terhadap formalinnya sangat rendah.

Larutan formalin dengan konsentrasi 10% digunakan dalam pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran formalin digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan mahasiswa kedokteran.

Manfaat formalin sebagai bahan pengawet ini ternyata disalahgunakan juga untuk pengawetan makanan sehari-hari. Bahan makanan yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin dan beberapa makanan lainnya. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.

Formalin juga dipakai dalam industri plastik, bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca. Berbagai produk rumah tangga seperti piring, gelas dan mangkuk yang berasal dari plastik atau melamin menggunakan formalin sebagai salah satu bahan pembuatannya.  Formalin dipakai untuk pembentukan ikatan polimer,  reaksi sampingannya memberikan warna yang cerah pada produk yang dihasilkannya.  Barang-barang tersebut bila digunakan dalam keadaan dingin  tidaklah berbahaya. Tetapi sangat berbahaya bila dipakai untuk menaruh bahan makanan panas seperti membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.

Hal itu karena bahan formalin yang terdapat dalam wadah akan larut. Dari penelitian hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua produk yang diteliti, kandungan formalin sangat tinggi antara 4,76 – 9,22 miligram per liter.

 III. BAHAYA PAPARAN FORMALIN TERADAP  SISTIM TUBUH

Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. Bila formalin masuk ke tubuh melebihi ambang batas tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ dan sistem tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui hirupan, kontak langsung atau tertelan.

Formalin yang masuk melalui pernafasan dapat terjadi akibat polusi udara di lingkungan sekitar kita.  Polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang tanpa disadari masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Selain itu asap rokok dan  air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga mengandung formalin.

Tergantung pada berapa kadar formalin yang terhirup, formalin mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan sistem saluran pernafasan ini bisa mengganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru) atau edema paru ( pembengkakan paru). Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Gangguan otak mengakibatk efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi.

Bila  formalin terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar. Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.

Apabila formalin secara langsung tertelan, maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.

Akibat jangka pendek yang terjadi biasanya bila terpapar formalin dalam jumlah yang banyak, Tanda dan gejala akut atau jangka pendek yang dapat terjadi adalah bersin, radang tonsil, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual, diare dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.

Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan.

Selain tertelan, formalin dapat masuk lewat mulut karena mengkonsumsi makanan yang diberi pengawet formalin. Jika akumulasi formalin kandungan dalam tubuh tinggi, maka bereaksi dengan hampir semua zat di dalam sel. Ini akibat sifat oksidator formalin terhadap sel hidup. Dampak yag dapat terjadi tergantung pada berapa banyak kadar formalin yang terakumulasi dalam tubuh. Semakin besar kadar yang terakumulasi, tentu semakin parah akibatnya. Mulai dari terhambatnya fungsi sel hingga menyebabkan kematian sel yang berakibat lanjut berupa kerusakan pada organ tubuh. Di sisi lain dapat pula memicunya pertumbuhan sel-sel yang tak wajar berupa sel-sel kanker. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan.

Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Pola makan yag sehat sangat menentukan dampak formalin yang tak sengaja terpapar ke dalam tubuh.

Usia anak khususnya bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan akibat formalin. Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya tersebut. Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke dalam tubuh. Sehingga pada orang dewasa relative dampaknya dapat ditekan oleh system tubuh. Namun pada usia anak, usus imatur (belum sempurna) atau sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk dikeluarkan. Hal ini juga akan lebih mengganggu pada penderita gangguan saluran cerna yang kronis seperti pada penderita Autism, penderita alergi dan sebagainya.

IV. IDENTIFIKASI BAHAN YANG MENGANDUNG FORMALIN

 Dalam mengonsumsi bahan makanan kita harus mencermati makanan yang mengandung formalin. Kalau tahu tahan sampai berhari-hari, kenyal dan padat (tidak mudah hancur) sangat mungkin mengandung formalin. Sebetulnya, makanan yang mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi oleh orang awam sekalipun. Ayam potong dan ikan yang diberi formalin dapat dilihat dari teksturnya yang lebih kasar atau agak keras dan lebih kering serta  tak ada  lalat yang mau hinggap. Namun kadangkala bila formalin yang digunakan sangat sedikit, tanda-tanda seperti itu sukar dikenali. Bila ada keraguan, untuk keamanan sebaiknya sebelum diolah menjadi masakan, masukkan dahulu ayam tersebut ke dalam air mendidih dan rendam beberapa saat. Buanglah air rebuaannya, ayam siap diolah menjadi santapan untuk keluarga. Cara ini cukup efektif mengingat formalin mudah larut dalam air.

Pencegahan paparan langsung terhadap formalin harus dilakukan, khususnya bagi pekerja industri yang memakai formalin. Agar tidak terhirup gunakan alat pelindung pernafasan, seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut. Lengkapi sistem ventilasi dengan penghisap udara (exhaust fan) yang tahan ledakan. Gunakan pelindung mata atau kacamata pengaman yang tahan terhadap percikan. Sediakan kran air untuk mencuci mata di tempat kerja yang berguna apabila terjadi keadaan darurat. Pencegahan paparan pada kulit sebaiknya menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung bahan kimia yang tahan terhadap bahan kimia. Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja atau cuci tangan sebelum makan.

Ada beberapa metode yang dilakukan untuk pengujian kadar formalin yang terdapat di dalam produk. Namun sayangnya kebanyakan metode yang dilakukan hanya bisa dilakukan di laboratorium dan tidak bisa dilakukan oleh masyarakat awam. Caranya yaitu :

Pertama, persiapkan bahan yang akan diuji sebanyak 5 gram saja, alat dan bahan yang akan digunakan. Bahan yang dianalisis dapat berupa : tahu, ikan, mie atau yang lainnya yang biasanya mengandung formalin. Alat-alat yang diperlukan, yaitu : sebuah kompor, panci, gelas tahan panas dan sendok. sedangkan bahan tambahan yang diperlukan yaitu asam kromatofat sebanyak 5 ml dan air murni (akuades) sebanyak 50 ml.

Kedua, nyalakan kompor, pasang panci, lalu rebus akuades hingga mendidih. Masukkan produk yang akan diuji ke dalam gelas, lalu rendam dengan akuades yang sudah mendidih. Masukkan asam kromatofat ke dalam gelas, lalu aduk semuanya dengan sendok. Produk yang mengandung formalin akan ditunjukkan dengan berubahnya warna air dari bening menjadi merah muda hingga ungu. Semakin ungu berarti kadar formalin semakin tinggi.

Ketiga, jika perlakuan di atas belum menghasilkan uji yang positif, pasang kembali panci ke atas kompor, rebus akuades yang baru, masukkan gelas yang berisi campuran produk, akuades lama dan asam kromatofat ke dalam panci. Waktu perebusan selama 20 menit dihitung sejak akuades yang baru mendidih.

Pengujian ini bisa jadi tidak tampak secara visual jika produk yang diuji mempunyai kadar formalin kurang dari 8 ppm. Jika kadar formalin produk kurang dari 8 ppm (setara dengan 8 mg formalin dalam 1 liter air) harus diamati dengan spektrofotometer.

Zat pengawet yang lebih aman sebenarnya ada, yaitu natrium benzoat. Natrium benzoat populer digunakan pada minuman ringan dan sirup. Pada industri makanan, seperti tahu dan mi, zat kimia ini aman digunakan dalam takaran yang tidak berlebihan. Natrium benzoat untuk pengawet makanan maksimal 1 gram per satu kilogram atau satu liter air. Jika berlebihan bisa mengundang alergi pada penderita asma dan menyebabkan hiperaktif pada anak yang mengonsumsi. Jika sesuai takaran tidak berefek. Selain natrium benzoat, zat pengawet lainnya yang relatif aman dalam takaran tertentu adalah asam propionat, nitrit, nitrat, sorbat, dan sulfit. Namun demikian satu atau beberapa jenis pengawet tersebut mungkin efektif untuk jenis makanan tertentu, tetapi belum tentu hal sama berlaku pada jenis makanan lain.

Untuk alat makan berasal dari plastik atau melamin, kalau mudah sekali pudar atau kusam, berarti bahannya banyak yang terkikis maka produk seperti ini perlu dihindari. Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. Untuk makanan dingin, biasanya tidak berbahaya. Formalin yang sudah membentuk polimer dalam keadaan dingin sulit untuk terurai.

  V. PENUTUP

Isu adanya formalin yang terdapat dalam bahan makanan dan alat makan sehari-hari ini memang harus diwaspadai. Tetapi sebaiknya tidak harus disikapi secara berlebihan. Bukan berarti kita harus sama sekali tidak makan tahu, bakso, mi basah, ayam  atau ikan asin. Atau kita tidak harus menghindari bahan plastik atau melamin untuk alat makan kita. Karena tidak semua bahan makanan atau alat makan tersebut mengandung formalin. Yang penting konsumen harus jeli dengan memperhatikan kualitas makanan dan alat makan yang dibeli atau dipakai, terutama produk industri rumah tangga. Pasalnya, pengawasan terhadap makanan industri rumah tangga masih sulit dilakukan.

Meskipun dampaknya sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. Banyak industri memerlukan formalin sehingga harus bijaksana dalam menggunakannya. Paling utama adalah dengan tidak menggunakannya pada makanan, karena masih ada pengawet makanan yang aman. Depkes atau Badan POM beserta instansi terkait harus mengawasi secara ketat dan terus menerus dalam masalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

 Aisjah Girindra. 2006. Halalan Thayyibanhttp://www.halalguide.info/indeks2.php (3 Agust, 2006)

 Blair, A., P. Stewart, P.A. Hoover, et al. 1987. Cancers of the nasopharynx and oropharynx and formaldehyde exposure. J. Natl. Cancer Inst. 78(1): 191-193.

Dalbey, W.E. 1982. Formaldehyde and tumors in hamster respiratory tract. Toxicology. 24: 9-14.

Johannsen, F.R., G.J. Levinskas and A.S. Tegeris. 1986. Effects of formaldehyde in the rat and dog following oral exposure. Toxicol. Lett. 30: 1-6.

Takahashi, M., R. Hasegawa, F. Furukawa, K. Toyoda, H. Sato and Y. Hayashi. 1986. Effects of ethanol, potassium metabisulfite, formaldehyde and hydrogen peroxide on gastric carcinogenesis in rats after initiation with N-methyl- N’nitro-N’nitrosoguanidine. Jap. J. Cancer Res. 77: 118-124.

 U.S. EPA. 1989. Draft Drinking Water Health Advisory for Formaldehyde. Office of Drinking Water, Washington, DC.

Ulsamer, A.G., K.C. Gupta, M.S. Cohn and P.W. Preuss. 1982. Formaldehyde in indoor air: Toxicity and risk. In: Proceed. 75th Ann. Meet. Air Pollut. Control Assoc. 16 p.

Vaughn, T.L., C. Strader, S. Davis and J.R. Daling. 1986a. Formaldehyde and cancers of the pharynx, sinus and nasal cavity: I. Occupational exposures. Int. J. Cancer. 38: 677-683.