Publikasi Karya Ilmiah


ID Scopus: 57196088078

https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57196088078

Berikut ini daftar karya ilmiah yang telah dipublikasikan oleh penulis. Anda dapat mendownlodnya dengan mengklik tautan yang disematkan pada setiap judul tulisan:

Analisis Buku Teks Kimia SMA Pada Konsep Kesetimbangan Kimia Ditinjau Dari Kriteria Representasi

The Importance of Development of Representational Competence in Chemical Problem Solving Using Interactive Multimedia

Profil keterampilan argumentasi siswa pada konsep koloid yang dikembangkan melalui pembelajaran inkuiri argumentatif

Pembelajaran Berbasis Web untuk Meningkatkan Kemampuan Interkoneksi Multiplelevel Representasi Mahasiswa Calon Guru pada Topik Kesetimbangan Larutan Asam-Basa

Project-Based Learning Design for Internalization of Environmental Literacy with Islamic Values (2017)

Designing Interactive Electronic Module in Chemistry Lessons (2017)

Learning Crude Oil by Using Scientific Literacy Comics (2017)

Volta-Based Cells Materials Chemical Multiple Representation to Improve Ability of Student Representation (2017)

Using Android-Based Educational Game for Learning Colloid Material (2017)

The development of an Augmented Reality (AR) technology-based learning media in metal structure concept (2017) Tautan asli:                        http://www.crcnetbase.com/doi/abs/10.1201/9781315166575-56

A web-based model to enhance competency in the interconnection of multiple levels of representation for pre-service teachers  (2017)  Tautan asli :   http://www.crcnetbase.com/doi/10.1201/9781315166575-84

Pengembangan Sikap Kreatif Siswa Pada Praktikum Penjernihan Air

The aplication of authentic assessment with feedback to improve the competence MTS Students in Constructing a Scientific Report of Motion Material in science learning

Pengembangan Prototype Reaktor dan Prosedur Eksperimen Pembuatan Biogas Skala Rumah Tangga Dari Sampah Organik Untuk Pembelajaran Kimia

Pengembangan bahan ajar pada materi Sel Volta berorientasi Multipel Representasi Kimia

Pengembangan Bahan Ajar pada Materi Laju Reaksi Berorientasi Multipel Representasi Kimia

Kemampuan Siswa Menghubungkan Tiga Level Representasi Melalui Model MORE (Model-Observe-Reflect-Explain)

E-Module Pembelajaran Minyak Bumi Berbasis Lingkungan Untuk Mengembangkan Kemampuan Literasi Kimia Siswa

Analisis Konsepsi Mahasiswa Terhadap Materi Elektrolisis Menggunakan Instrumen Tes Three Tier Multiple Choice

Pembuatan Media Pembelajaran Berupa Animasi Berbasis Komputer Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SMA/MA Kelas X Pada Mata Pelajaran Kimia Konsep Ikatan Kimia

Iklan

LOGIKA: Sebagian dari 1000 Kesalahan Berlogika


Hariyanto Imadha: EksMa Fakultas Filsafat UGM


TAHUN 1980 hingga 1990, secara sambil lalu saya melakukan survei tentang cara berlogika dari masyarakat, terutama dari kalangan mahasiswa dan sarjana. Sambil lalu, semuanya saya catat hingga saya menemukan 1.000 kesalahan berlogika. Semua saya simpan di CD. sayang, banjir besar yang melanda Bojonegoro akhir 2007 / awal 2008 menyebabkan CD rusak dan hanya sebagian artikel saja yang terselamatkan. Yaitu, seperti yang bisa Anda baca di bawah iini (sebagian merupakan penemuan-penemuan baru). Istilah-istilah dalam bahasa Yunani saya ganti dalam bahasa Inggeris.

CATATAN:
1.Tulisan ini disusun berdasarkan makalah kuliah, referensi, pengamatan dan pengalaman sehari-hari. Tulisan ini layak dibaca untuk mereka yang suka ngeyel. Dari 1000 Kesalahan berlogika, hanya 160 kesalahan saja yang saya publikasikan secara gratis

2.Slah satu penyebab keterpurukan bangsa Indonesia yaitu, keputusan-keputusan yang diambil (terutama oleh para pemimpin bangsa) menggunakan konstruksi logika yang salah.

Antara lain:

1.Category Logic Error:
Kesalahan berlogika akibat salah menerapkan kategori

Contoh:
Banyak sarjana beranggapan bahwa…

Lihat pos aslinya 9.050 kata lagi

Analisis Buku Teks Kimia SMA Pada Konsep Kesetimbangan Kimia Ditinjau Dari Kriteria Representasi


Rita Sugiarti* dan Ida Farida, Ch.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia : ISBN 978-602-19655-4-2

File Proseding Download di link ini: Rita sugiarti

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis buku teks kimia SMA pada konsep kesetimbangan kimia menggunakan lima kriteria representasi buku dari  Gkitzia, et al yaitu jenis representasi (R1);  fitur interpretasi (R2): keterkaitan teks, (R3): keberadaan keterangan gambar (R4):, derajat keterhubungan antara komponen multiple representasi (R5). Sebagai buku standar digunakan buku teks kimia “Chemistry” karangan Mc Murry. Analisis dilakukan terhadap  Buku Sekolah Elektronik Kimia (buku A), dan buku kimia yang banyak digunakan sebagai buku pengayaan (buku B). Hasil analisis menunjukkan: dari segi representasi gambar, buku A memuat tiga representasi dengan jenis (R1) makroskopik  (33%) dan multiple (67 %) ; fitur  eksplisit, implisit dan  ambigu sebanding (R2 33%);  keterkaitan teks  (R3  66%), keterangan sesuai (R4 66%) dan R5 tak terhubung (66%). Buku B, memuat  enam representasi dengan jenis (R1) makroskopik (17%);  submikroskopik (17%) dan multiple (66%), fitur eksplisit (R2 : 83%), keterkaitan teks (R3 83%),  keterangan sesuai (R4 83% ) dan R5 tidak terhubung (17%) .Dari segi kesesuaian representasi konsep, Kedua buku yang diteliti tidak menjelaskan fungsi nilai tetapan kesetimbangan Kc dan hanya buku B yang menjelaskan fungsi nilai Qc dan Kc.  Dibandingkan dengan buku A, buku B menyajikan konsep hampir sesuai dengan buku standar dan hampir memenuhi lima standar kriteria representasi buku. 

Bahaya Paparan Formalin Terhadap Tubuh


Abstrak

Formalin yang umum dikenal sebagai zat pengawet sediaan biologi atau mayat, banyak disalahgunakan untuk pengawet bahan makanan sehari-hari, seperti  mi basah, tahu, bakso, ikan asin, ayam potong, ikan laut dan beberapa makanan lainnya. Beberapa jenis peralatan rumah tangga yang terbuat dari plastic atau melamin, seperti mangkuk, pring dan gelas juga menggunakan formalin. Peralatan itu hanya aman digunakan dalam kondisi dingin. Pengaruh formalin terhadap system tubuh tergantung pada berapa lama dan berapa kadar yang terakumulasi dalam tubuh. Faktor imunitas tubuh juga ikut menentukan.Namun bagi usia bayi dan anak kecenderungan bahaya formalin semakin besar, karena system imun tubuhnya belum sempurna. Sifat oksidator formalin dapat merusak sel-sel tubuh sehingga menghambat metabolisme, bahkan dapat mengakibatkan pertumbuhan sel yang abnormal (kanker). Oleh karena itu penting sekali kemampuan memilih dan membedakan makanan atau peralatan makan yang aman.

I. PENDAHULUAN

            Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) di Jakarta  sejak tahun 2006 ditemukan sejumlah produk pangan seperti ikan asin, mi basah, ayam potong dan tahu  memakai formalin sebagai pengawet. Produk pangan berformalin itu dijual di sejumlah pasar dan supermarket di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, dan Bekasi. Temuan terbaru menyatakan bahwa beberapa produk permen susu dan makanan kecil kemasan/bermerk asal China juga mengandung formalin. Fakta ini tentu saja sangat menghawatirkan, karena formalin bukanlah zat aditif makanan, namun justru mengancam kesehatan. Produk-produk yang mengandung formalin itu tanpa sadar dikonsumsi masyarakat luas sehari-hari, karena tidak tahu bagaimana membedakan makanan berformalin ataukah tidak. Di samping itu dapat pula akibat ketidaktahuan dampak penggunaan formalin, zat ini masih luas dipergunakan. Dampak yang tak terlihat secara langsung ini juga membuat para produsen tidak peduli akan akibat jangka panjangnya. Akumulasi formalin terus-menerus dalam tubuh dapat berakibat fatal yang mengancam sistem keseimbangan tubuh.

Pada makalah ini akan dikaji mengenai formalin dan sifat-sifatnya dan bagaimana dampaknya bagi sistim tubuh. Dikaji pula bagaimana cara mengidentifikasi makanan yang mengandung formalin baik dengan cara sederhana maupun secara kimia. Diharapkan tulisan ini dapat lebih menyadarkan pihak-pihak tertentu yang menggunakan formalin dalam produk makanan agar tidak lagi menggunakannya. Terlebih dari itu konsumen dapat mewaspadai produk-produk yang mengandung formalin, sehingga dapat mengenali ciri-ciri produk yang berformalin.

 II. PENGGUNAAN FORMALIN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN PENYALAHGUNAANNYA

Formalin atau formaldehid adalah larutan tak berwarna, mudah larut dalam air, mudah menguap, dan mempunyai bau yang tajam. Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formaldehid. Formalin termasuk golongan aldehida suku pertama dengan rumus kimia ; H-CH=O

Formalin mempunyai banyak nama kimia diantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methyleneglycol.

Penggunaan formalin sudah sangat umum dalam kehidupan sehari-hari maupun industri. Zat ini sangat luas pemanfaatannya karena sifat oksidator yang cukup kuat  dari gugus aldehid (karboksil). Sifat oksidator inilah yang menyebabkan secara luas formalin digunakan untuk antiseptik, germisida, dan pengawet.

Sebagai anti bakteri atau pembunuh kuman (germisida), formalin dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Dalam industri, digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak.. Di bidang industri kayu sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood).

Larutan formalin yang sangat encer (<1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Temuan terbaru menyatakan penggunaan formalin juga ditemukan dalam pasta gigi merk tertentu yang diproduksi China.

Di industri perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Akibat penggunaan yang berlebihan, kemungkinan masih ada sisa-sisa formalin pada tubuh ikan dan bila tidak dibersihkan secara seksama dapat ikut termakan.

Beberapa sumber menyatakan bahwa formalin juga sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Namun penggunaannya perlu hati-hati karena zat ini juga sangat beracun bagi ikan. Kadang-kadang ikan yang diobati malah menjadi mati bukan karena penyakitnya, tapi karena ambang batas aman terhadap formalinnya sangat rendah.

Larutan formalin dengan konsentrasi 10% digunakan dalam pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran formalin digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan mahasiswa kedokteran.

Manfaat formalin sebagai bahan pengawet ini ternyata disalahgunakan juga untuk pengawetan makanan sehari-hari. Bahan makanan yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin dan beberapa makanan lainnya. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.

Formalin juga dipakai dalam industri plastik, bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca. Berbagai produk rumah tangga seperti piring, gelas dan mangkuk yang berasal dari plastik atau melamin menggunakan formalin sebagai salah satu bahan pembuatannya.  Formalin dipakai untuk pembentukan ikatan polimer,  reaksi sampingannya memberikan warna yang cerah pada produk yang dihasilkannya.  Barang-barang tersebut bila digunakan dalam keadaan dingin  tidaklah berbahaya. Tetapi sangat berbahaya bila dipakai untuk menaruh bahan makanan panas seperti membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.

Hal itu karena bahan formalin yang terdapat dalam wadah akan larut. Dari penelitian hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua produk yang diteliti, kandungan formalin sangat tinggi antara 4,76 – 9,22 miligram per liter.

 III. BAHAYA PAPARAN FORMALIN TERADAP  SISTIM TUBUH

Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. Bila formalin masuk ke tubuh melebihi ambang batas tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ dan sistem tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui hirupan, kontak langsung atau tertelan.

Formalin yang masuk melalui pernafasan dapat terjadi akibat polusi udara di lingkungan sekitar kita.  Polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang tanpa disadari masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Selain itu asap rokok dan  air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga mengandung formalin.

Tergantung pada berapa kadar formalin yang terhirup, formalin mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan sistem saluran pernafasan ini bisa mengganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru) atau edema paru ( pembengkakan paru). Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Gangguan otak mengakibatk efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi.

Bila  formalin terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar. Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.

Apabila formalin secara langsung tertelan, maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.

Akibat jangka pendek yang terjadi biasanya bila terpapar formalin dalam jumlah yang banyak, Tanda dan gejala akut atau jangka pendek yang dapat terjadi adalah bersin, radang tonsil, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual, diare dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.

Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan.

Selain tertelan, formalin dapat masuk lewat mulut karena mengkonsumsi makanan yang diberi pengawet formalin. Jika akumulasi formalin kandungan dalam tubuh tinggi, maka bereaksi dengan hampir semua zat di dalam sel. Ini akibat sifat oksidator formalin terhadap sel hidup. Dampak yag dapat terjadi tergantung pada berapa banyak kadar formalin yang terakumulasi dalam tubuh. Semakin besar kadar yang terakumulasi, tentu semakin parah akibatnya. Mulai dari terhambatnya fungsi sel hingga menyebabkan kematian sel yang berakibat lanjut berupa kerusakan pada organ tubuh. Di sisi lain dapat pula memicunya pertumbuhan sel-sel yang tak wajar berupa sel-sel kanker. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan.

Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Pola makan yag sehat sangat menentukan dampak formalin yang tak sengaja terpapar ke dalam tubuh.

Usia anak khususnya bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan akibat formalin. Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya tersebut. Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke dalam tubuh. Sehingga pada orang dewasa relative dampaknya dapat ditekan oleh system tubuh. Namun pada usia anak, usus imatur (belum sempurna) atau sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk dikeluarkan. Hal ini juga akan lebih mengganggu pada penderita gangguan saluran cerna yang kronis seperti pada penderita Autism, penderita alergi dan sebagainya.

IV. IDENTIFIKASI BAHAN YANG MENGANDUNG FORMALIN

 Dalam mengonsumsi bahan makanan kita harus mencermati makanan yang mengandung formalin. Kalau tahu tahan sampai berhari-hari, kenyal dan padat (tidak mudah hancur) sangat mungkin mengandung formalin. Sebetulnya, makanan yang mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi oleh orang awam sekalipun. Ayam potong dan ikan yang diberi formalin dapat dilihat dari teksturnya yang lebih kasar atau agak keras dan lebih kering serta  tak ada  lalat yang mau hinggap. Namun kadangkala bila formalin yang digunakan sangat sedikit, tanda-tanda seperti itu sukar dikenali. Bila ada keraguan, untuk keamanan sebaiknya sebelum diolah menjadi masakan, masukkan dahulu ayam tersebut ke dalam air mendidih dan rendam beberapa saat. Buanglah air rebuaannya, ayam siap diolah menjadi santapan untuk keluarga. Cara ini cukup efektif mengingat formalin mudah larut dalam air.

Pencegahan paparan langsung terhadap formalin harus dilakukan, khususnya bagi pekerja industri yang memakai formalin. Agar tidak terhirup gunakan alat pelindung pernafasan, seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut. Lengkapi sistem ventilasi dengan penghisap udara (exhaust fan) yang tahan ledakan. Gunakan pelindung mata atau kacamata pengaman yang tahan terhadap percikan. Sediakan kran air untuk mencuci mata di tempat kerja yang berguna apabila terjadi keadaan darurat. Pencegahan paparan pada kulit sebaiknya menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung bahan kimia yang tahan terhadap bahan kimia. Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja atau cuci tangan sebelum makan.

Ada beberapa metode yang dilakukan untuk pengujian kadar formalin yang terdapat di dalam produk. Namun sayangnya kebanyakan metode yang dilakukan hanya bisa dilakukan di laboratorium dan tidak bisa dilakukan oleh masyarakat awam. Caranya yaitu :

Pertama, persiapkan bahan yang akan diuji sebanyak 5 gram saja, alat dan bahan yang akan digunakan. Bahan yang dianalisis dapat berupa : tahu, ikan, mie atau yang lainnya yang biasanya mengandung formalin. Alat-alat yang diperlukan, yaitu : sebuah kompor, panci, gelas tahan panas dan sendok. sedangkan bahan tambahan yang diperlukan yaitu asam kromatofat sebanyak 5 ml dan air murni (akuades) sebanyak 50 ml.

Kedua, nyalakan kompor, pasang panci, lalu rebus akuades hingga mendidih. Masukkan produk yang akan diuji ke dalam gelas, lalu rendam dengan akuades yang sudah mendidih. Masukkan asam kromatofat ke dalam gelas, lalu aduk semuanya dengan sendok. Produk yang mengandung formalin akan ditunjukkan dengan berubahnya warna air dari bening menjadi merah muda hingga ungu. Semakin ungu berarti kadar formalin semakin tinggi.

Ketiga, jika perlakuan di atas belum menghasilkan uji yang positif, pasang kembali panci ke atas kompor, rebus akuades yang baru, masukkan gelas yang berisi campuran produk, akuades lama dan asam kromatofat ke dalam panci. Waktu perebusan selama 20 menit dihitung sejak akuades yang baru mendidih.

Pengujian ini bisa jadi tidak tampak secara visual jika produk yang diuji mempunyai kadar formalin kurang dari 8 ppm. Jika kadar formalin produk kurang dari 8 ppm (setara dengan 8 mg formalin dalam 1 liter air) harus diamati dengan spektrofotometer.

Zat pengawet yang lebih aman sebenarnya ada, yaitu natrium benzoat. Natrium benzoat populer digunakan pada minuman ringan dan sirup. Pada industri makanan, seperti tahu dan mi, zat kimia ini aman digunakan dalam takaran yang tidak berlebihan. Natrium benzoat untuk pengawet makanan maksimal 1 gram per satu kilogram atau satu liter air. Jika berlebihan bisa mengundang alergi pada penderita asma dan menyebabkan hiperaktif pada anak yang mengonsumsi. Jika sesuai takaran tidak berefek. Selain natrium benzoat, zat pengawet lainnya yang relatif aman dalam takaran tertentu adalah asam propionat, nitrit, nitrat, sorbat, dan sulfit. Namun demikian satu atau beberapa jenis pengawet tersebut mungkin efektif untuk jenis makanan tertentu, tetapi belum tentu hal sama berlaku pada jenis makanan lain.

Untuk alat makan berasal dari plastik atau melamin, kalau mudah sekali pudar atau kusam, berarti bahannya banyak yang terkikis maka produk seperti ini perlu dihindari. Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. Untuk makanan dingin, biasanya tidak berbahaya. Formalin yang sudah membentuk polimer dalam keadaan dingin sulit untuk terurai.

  V. PENUTUP

Isu adanya formalin yang terdapat dalam bahan makanan dan alat makan sehari-hari ini memang harus diwaspadai. Tetapi sebaiknya tidak harus disikapi secara berlebihan. Bukan berarti kita harus sama sekali tidak makan tahu, bakso, mi basah, ayam  atau ikan asin. Atau kita tidak harus menghindari bahan plastik atau melamin untuk alat makan kita. Karena tidak semua bahan makanan atau alat makan tersebut mengandung formalin. Yang penting konsumen harus jeli dengan memperhatikan kualitas makanan dan alat makan yang dibeli atau dipakai, terutama produk industri rumah tangga. Pasalnya, pengawasan terhadap makanan industri rumah tangga masih sulit dilakukan.

Meskipun dampaknya sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. Banyak industri memerlukan formalin sehingga harus bijaksana dalam menggunakannya. Paling utama adalah dengan tidak menggunakannya pada makanan, karena masih ada pengawet makanan yang aman. Depkes atau Badan POM beserta instansi terkait harus mengawasi secara ketat dan terus menerus dalam masalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

 Aisjah Girindra. 2006. Halalan Thayyibanhttp://www.halalguide.info/indeks2.php (3 Agust, 2006)

 Blair, A., P. Stewart, P.A. Hoover, et al. 1987. Cancers of the nasopharynx and oropharynx and formaldehyde exposure. J. Natl. Cancer Inst. 78(1): 191-193.

Dalbey, W.E. 1982. Formaldehyde and tumors in hamster respiratory tract. Toxicology. 24: 9-14.

Johannsen, F.R., G.J. Levinskas and A.S. Tegeris. 1986. Effects of formaldehyde in the rat and dog following oral exposure. Toxicol. Lett. 30: 1-6.

Takahashi, M., R. Hasegawa, F. Furukawa, K. Toyoda, H. Sato and Y. Hayashi. 1986. Effects of ethanol, potassium metabisulfite, formaldehyde and hydrogen peroxide on gastric carcinogenesis in rats after initiation with N-methyl- N’nitro-N’nitrosoguanidine. Jap. J. Cancer Res. 77: 118-124.

 U.S. EPA. 1989. Draft Drinking Water Health Advisory for Formaldehyde. Office of Drinking Water, Washington, DC.

Ulsamer, A.G., K.C. Gupta, M.S. Cohn and P.W. Preuss. 1982. Formaldehyde in indoor air: Toxicity and risk. In: Proceed. 75th Ann. Meet. Air Pollut. Control Assoc. 16 p.

Vaughn, T.L., C. Strader, S. Davis and J.R. Daling. 1986a. Formaldehyde and cancers of the pharynx, sinus and nasal cavity: I. Occupational exposures. Int. J. Cancer. 38: 677-683.

Peranan Multiple Representasi Dalam Belajar Sains/Kimia


(Dari sebagian Kajian pustaka bab 2 DISERTASIKU yang berjudul:

“INTERKONEKSI MULTIPEL LEVEL REPRESENTASI MAHASISWA PADA KESETIMBANGAN DALAM LARUTAN MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS WEB” . Penulis ;

Dr. Ida Farida, M.Pd

SEKOLAH PASCASARJANA  UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA – THN 2012)

Berdasarkan kamus Australian Concise Oxford Dictionary (Hughes et al., 1995), definisi dari kata  ‘representation’ berarti sesuatu yang merepresentasikan yang lain (‘means something that represents another’). Kata menyajikan (represents) memiliki sejumlah makna termasuk : mensimbolisasikan (to symbolize); memanggil kembali pikiran melalui gambaran atau imajinasi (to call up in the mind by description or portrayal or imagination) ; memberikan suatu penggambaran ( to depict as). Makna istilah-istilah tersebut memperkuat pentingnya suatu representasi untuk membantu mendeskripsikan dan mensimbolisasikan dalam suatu eksplanasi.

Penggunaan representasi dengan berbagai cara atau mode representasi  untuk merepresentasikan suatu  fenomena  disebut multiple representasi.  Waldrip (2006) mendefinisikan multiple representasi sebagai praktik merepresentasikan kembali (re-representing) konsep yang sama melalui berbagai bentuk, yang mencakup mode-mode representasi deskriptif (verbal, grafik, tabel), experimental, matematis, figuratif (piktorial, analogi dan  metafora), kinestetik, visual dan/atau   mode aksional-operasional.

Baik Sains, maupun Ilmu Kimia termasuk mata pelajaran yang sukar dipahami, karena banyaknya konsep-konsep abstrak yang tidak akrab dengan prior knowledge ataupun model mental yang telah dimiliki pebelajar. Seringkali model mental pebelajar itu bertentangan dengan eksplanasi ilmiah.

Belajar hafalan tentang rumus-rumus kimia dan fakta-fakta memang penting untuk memori jangka panjang, namun hanya dengan cara itu tidak dapat menjamin pebelajar memahami konsep. Diperlukan belajar bermakna agar pebelajar dapat mengkonstruksi konsep-konsep sains/kimia.

Ainsworth (dalam Treagust, 2008) menyatakan multiple  representasi dapat berfungsi sebagai instrumen yang  memberikan dukungan dan memfasilitasi terjadinya belajar bermakna (meaningful learning) dan/atau belajar yang mendalam (deep learning) pada pebelajar.   Multiple representasi  juga merupakan tools yang memiliki kekuatan untuk menolong pebelajar mengembangkan pengetahuan ilmiahnya.

Oleh karena itu dengan menggunakan representasi yang berbeda dan mode pembelajaran yang berbeda akan membuat konsep-konsep menjadi lebih mudah dipahami dan menyenangkan (intelligible, plausible dan fruitful) bagi pebelajar. Hal ini, karena setiap mode representasi memiliki makna komunikasi yang berbeda.

Representasi konsep-konsep kimia, seperti halnya konsep-konsep sains umumnya secara inheren bersifat multimodal , karena melibatkan kombinasi lebih dari satu mode representasi.

Jhonstone  (dalam Chandrasegaran, Treagust & Mocerino, 2007) membedakan representasi kimia menjadi tiga level, yaitu level representasi makroskopik, representasi submikroskopik dan representasi simbolik.

Adapun deskripsi level-level representasi kimia disarikan dari  Gilbert (2008) sebagai berikut :

Representasi makroskopik

Representasi  makroskopik merupakan representasi kimia yang diperoleh melalui    pengamatan nyata (tangible) terhadap suatu fenomena yang dapat dilihat (visible) dan dipersepsi oleh panca indra  (sensory level), baik secara langsung maupun tak langsung. Perolehan pengamatan itu dapat melalui pengalaman sehari-hari, penyelidikan di laboratorium secara aktual, studi di lapangan ataupun  melalui simulasi.

Contohnya: terjadinya perubahan warna, suhu, pH larutan, pembentukan gas dan  endapan yang dapat diobservasi ketika suatu reaksi kimia berlangsung.

Seorang pebelajar dapat merepresentasikan hasil pengamatan atau kegiatan labnya dalam berbagai mode representasi, misalnya dalam bentuk laporan tertulis, diskusi, presentasi oral, diagram vee, grafik dan sebagainya.  Representasi level makroskopik bersifat deskriptif, namun  demikian pengembangan kemampuan pebelajar merepresentasikan level makroskopik memerlukan bimbingan agar mereka dapat fokus terhadap aspek-aspek apa saja yang paling penting untuk diamati dan direpresentasikan berdasarkan  fenomena yang diamatinya.

Representasi  submikroskopik 

Representasi  submikroskopik merupakan representasi kimia yang  menjelaskan dan mengeksplanasi mengenai struktur dan proses pada level partikel (atom/molekular) terhadap fenomena makroskopik yang diamati. Penggunaan istilah submikroskopik merujuk pada level ukurannya yang direpresentaikan yang berukuran lebih kecil dari level nanoskopik. Level representasi submikoskopik yang dilandasi teori partikulat materi digunakan untuk mengeksplanasi fenomena makroskopik dalam term gerakan partikel-partikel, seperti gerakan elektron-elektron, molekul-molekul dan atom-atom. Entitas submikroskopik tersebut nyata (real), namun terlalu kecil untuk diamati.

Operasi pada level submikroskopik memerlukan kemampuan berimajinasi dan memvisualisasikan. Mode representasi pada level ini dapat diekspresikan mulai dari yang sederhana hingga menggunakan teknologi komputer, yaitu menggunakan kata-kata (verbal), diagram/gambar,  model dua dimensi, model tiga dimensi baik diam maupun bergerak (berupa animasi)

Representasi  simbolik 

Representasi simbolik yaitu representasi kimia secara kualitatif   dan kuantitatif, yaitu  rumus kimia,  diagram, gambar, persamaan reaksi, stoikiometri  dan  perhitungan matematik. Taber (2009) menyatakan bahwa representasi simbolik bertindak sebagai  bahasa persamaan kimia (the language of chemical equation), sehingga terdapat aturan-aturan (grammatical rules) yang harus diikuti.

Level representasi simbolik mencakup semua abstraksi kualitatif yang digunakan untuk menyajikan setiap item pada level submikroskopik. Abstraksi-abstraksi itu digunakan sebagai singkatan (shorthand) dari entitas pada level submikroskopik dan juga digunakan untuk menunjukkan secara kuantitatif  seberapa banyak setiap jenis item yang disajikan pada tiap level.

Berdasarkan penelitian Treagust (2008) pebelajar yang bukan berlatar belakang kimia cenderung hanya menggunakan level representasi makroskopik dan simbolik.  Hasil penelitian ini sesuai dengan berbagai penelitian lainnya bahwa level submikroskopik paling sukar dipahami diantara ketiga level representasi. Penggunaan model-model kimia juga tidak selalu diapresiasi dengan menghubungkannya dengan dua target real, yaitu level submikroskopik dan level makroskopik.  Seringkali model-model hanya dipandang sebagai simbolisasi yang dimaknai dalam konteks matematik atau perhitungan (Chittleborough & Treagust, 2007)

Level submikroskopik ini menjadi kekuatan dan sekaligus kelemahan untuk belajar kimia. Kekuatannya, karena level submikroskopik merupakan basis intelektual yang penting untuk eksplanasi kimia. Kelemahan terjadi ketika pebelajar mulai mencoba belajar dan memahaminya. Lemahnya model mental pebelajar pemula nampaknya akibat diabaikan atau termarjinalisasinya level representasi  submikroskopik dibandingkan dengan  level representasi makroskopik dan simbolik. (Wright dalam Davidowiz & Chittleborough, 2009).

Level representasi submikroskopik tak dapat dilihat secara langsung, sedangkan prinsip-prinsip dan komponen-komponenya yang kini diakui sebagai kebenaran dan nyata tergantung pada model teroritik yaitu teori atom. Definisi ilmiah dari teori diperkuat oleh gambaran atom (model) yang mengalami berulang kali perbaikan. Sebagaimana yang dinyatakan Silberberg (2009) ilmuwan masa kini meyakini adanya distribusi elektron dalam atom, namun interaksi antara proton dan neutron di dalam inti atom masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Pandangan tersebut menunjukkan sifat ilmu kimia yang dinamis dan senantiasa menarik untuk diselidiki. Bagaimana gagasan-gagasan ilmiah seperti itu berkembang perlu diapresiasi pebelajar agar dapat membantu mengembangkan epistimologi ilmiahnya. Kemajuan teknologi masa kini meningkatkan gambaran level submikroskopik melalui nanoteknologi, sehingga berpotensi menyediakan bantuan visualisasi yang lebih memadai untuk mengajarkan level ini, meskipun proyeksi yang dihasilkannya  tetap suatu representasi.

Chittleborough & Treagust (2007) menyatakan pebelajar  tidak dapat menggunakan representasi kimia, jika  kurang mengapresiasi karakteristik pemodelan.  Istilah  pemodelan seringkali digunakan secara luas mencakup representasi ide, obyek, kejadian, proses atau sistem.  Namun yang dimaksud dengan pemodelan dalam kimia adalah representasi fisik atau komputasional dari komposisi dan struktur suatu molekul atau partikel (level submikroskopik). Representasi struktur suatu molekul atau model partikel (submikroskopik) tersebut dapat berupa model fisik,  animasi atau simulasi.

Kemampuan pemodelan tersebut sangat penting untuk mencapai keberhasilan menggunakan representasi kimia. Contohnya : ketika pebelajar memikirkan suatu model kimia, terbentuklah  hubungan antara suatu analogi dan target yang dianalogikan sebagai representasi simbolik (yang dapat berbeda-beda jenisnya)  dengan  dua target real yaitu  level submikroskopik  (target 1) dan  level  makroskopik (target 2). Dalam hal ini representasi simbolik merupakan analogi dari level  makro dan  sub-mikroskopik yang menjadi target (Treagust, 2008).

Berkaitan dengan ketiga representasi kimia,  Gilbert dan  Treagust  (2009) merangkum dari berbagai hasil penelitian mengenai masalah yang dihadapi pebelajar, yaitu :

1) Lemahnya pengalaman pebelajar pada level makroskopik, karena tidak tersedianya pengalaman praktik yang tepat atau tidak terdapatnya  kejelasan apa yang harus mereka pelajari melalui kerja lab (praktikum) ;

2)  Terjadinya miskonsepsi pada  level submikroskopik, karena kebingungan pada sifat-sifat partikel materi dan ketidak-mampuan untuk memvisualisasikan entitas dan proses  pada level submikroskopik;

3) Lemahnya pemahaman terhadap kompleksitas konvensi yang digunakan untuk merepresentasikan level simbolik;

4) Ketidak-mampuan untuk ‘bergerak’ antara ketiga level representasi.

Oleh karena itu, perlu didesain kurikulum pendidikan kimia yang dapat memfasilitasi pebelajar agar mereka lebih efektif belajar dalam ketiga domain.

Referens :

Chiu, M.H & Wu, H.K. (2009). The roles of multimedia in the teaching and  learning of the triplet relationship in chemistry. In: J.K. Gilbert & D. Treagust (Eds.). Multiple Representations in Chemical Education: Models and Modeling in Science Education. Dordrecht: Springer. pp. 251-283

Cheng, M. & Gilbert, J.K. (2009). Towards a better utilization of diagrams in research into the use of representative levels in chemical education.  in: J.K. Gilbert & D. Treagust (Eds.). Multiple Representations in Chemical Education: Models and Modeling in Science Education. Dordrecht: Springer.pp. 55-73.

Davidowitz  B. &  Chittleborough, G. D. (2009). Linking the macroscopic and  sub-microscopic levels : Diagram.  In: J. Gilbert &  D. Treagust (Eds.). Multiple Representation in Chemical Education: Models and Modeling in Science Education. Dordrecht: Springer. 169-191.

Devetak, Iztok, et al. (2004).  Submicroscopic representations as a tool for evaluating students’ chemical conceptions. Acta Chim. Slov., 51, (4), 799:814.

Donovan,W. &  Nakhleh, M. (2007). Student use of web-based tutorial materials and understanding chemistry concepts. Journal Comp. Math. and  Sci.Tech.  26,(4), 291-327

Gilbert, J.K. &  Treagust, D.F. (2009). Introduction: Macro, sub-micro and symbolic representations and the relationship between them: Key models in chemical education. In: J. K. Gilbert &  D. Treagust (Eds.). Multiple Representations in Chemical Education: Models and Modeling in Science Education. Dordrecht: Springer.1-8

Gilbert, John K. (2005). Visualization: a metacognitive skill in science and  science education. In Gilbert, J.K. (Ed.), Visualization in Science Education. Dordrecht: Springer.

Kozma, R., &  Joel Russell. (2005). Modeling students becoming chemists: developing representational competence. In J. Gilbert (Ed.), Visualization in Science Education. Dordrecht: Springer. pp. 121-145

Mammino L. (2008). Teaching chemistry with and  without external representations in professional environments with limited resources. In : J.K Gilbert, Reiner &  Nakhleh (Eds.). Visualization : Theory and  Practice in Science Education. Dordrecht: Springer. pp. 155−185.

Rosengrant, D., Van Heuleven, A., &  Etkina, E. (2006).  Students’  use of multiple representations in problem solving. In P. Heron, L. McCullough &  J. Marx, Physics Education Research Conference (AIP Conference Proceedings) Melville. New York : American Institute of Physics. pp. 49-52.

Taber, K. S.  (2009). Learning at the symbolic level. In: Gilbert, J.K &  D. Treagust (Eds.). Multiple Representation in Chemical Education: Models &  Modeling in Science Education . Dordrecht: Springer. pp. 75-105

Treagust, David F., Chittleborough &  Mamiala (2003). The role of submicroscopic and symbolic representations in chemical explanations. International Journal of Science Education, 25, (11): 1353–1368

Treagust, David F. (2008). The role of multiple representations in learning science: enhancing students’ conceptual understanding and motivation. In Yew-Jin &  Aik-Ling (Eds.). Science Education at The Nexus of Theory &  Practice.  Rotterdam – Taipei: Sense Publishers. pp:7-23

Treagust, David F.  &  Chandrasegaran, (2009). The efficacy of an alternative instructional programme designed to enhance secondary students’ competence in the triplet relationship. In: Gilbert, J.K &  D. Treagust (Eds.). Multiple Representation in Chemical Education: Models &  Modeling in Science Education . Dordrecht: Springer. pp:151-164

Waldrip, B., Prain, V. & Carolan, J. (2006). Learning junior secondary sience through multi-modal representation. E-Journal of Science Education,11,(1),87-107.

Wu, H-K. &  Shah, P. (2004). Exploring Visuospatial Thinking in Chemistry Learning. Science Education, 88, 465-92

Hakekat Sains


Secara umum istilah sains (science) diartikan sebagai ilmu atau ilmu pengetahuan . Istilah  ‘science’ yang berasal dari scio, scire (bahasa latin) yang berarti tahu. Begitupun juga ilmu berasal dari kata ‘alima’ (bahasa arab) yang juga berarti tahu. Jadi, baik ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan. Dalam makna sempit, sains diartikan sebagai natural sains atau ilmu kealaman yang terdiri atas  disiplin ilmu physical sciences dan life sciences.

Sains dibentuk oleh karena dua orde pengalaman, yaitu hasil observasi terhadap gejala/fakta (orde observasi) dan konsep manusia mengenai alam semesta (orde konsepsional).

Oleh karena itu, sains merupakan kumpulan pengetahuan yang menelaah atau mengaji fakta-fakta empiris.

Fakta empiris yang dimaksudkannya adalah fakta yang langsung dialami oleh manusia yang menggunakan panca inderanya. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi oleh sekumpulan  pengetahuan yang dikandung  dalam ilmu itu adalah   susunannya harus logis, sistematis dan diperoleh dengan metode keilmuan.

Selain itu untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai obyek-obyek empiris agar dapat memberikan arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan.

Diasumsikan bahwa meskipun obyek-obyek empiris yang menjadi bidang penelaahan mempunyai sifat keragaman, namun pada dasarnya  memperlihatkan sifat berulang dan semuanya jalin menjalin secara teratur serta suatu peristiwa tidaklah terjadi secara kebetulan namun mempunyai pola yang teratur.

Seluruh science berawal dari gagasan yang timbul dari pemikiran sehari-hari mengenai fenomena yang terjadi di alam semesta. Sains dimulai dengan fakta dan berakhir dengan fakta. Fakta yang terjadi kemudian menjadi fakta baru dan menjalani siklus yang sama.

Saintis mengemukakan teorinya secara tentatif melalui induksi yang diawali dengan mengumpulkan sejumlah fakta. Kemudian mengadakan prediksi melalui deduksi.

Apabila sejumlah observasi yang dimaksudkan untuk memverifikasi prediksi tidak mendukung teori sebelumnya, maka teori lama dimodifikasi atau diubah menjadi teori baru.

Kekhasan dan keistimewaan sains terletak pada pandangan-pandangannya yang lebih kritis, adanya observasi dan deskripsi yang lebih teliti dalam melukiskan benda-benda atau kejadian.

Cara kerja para saintis yang khas dalam mengembangkan sains tersebut memberikan dampak dan kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan peradaban manusia. Dengan terungkapnya tabir rahasia alam satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkan, jangkauan sains makin luas sehingga menghasilkan penerapan sains berupa teknologi. Kemajuan teknologi itu telah mengubah segenap aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun mahluk sosial.

Dampaknya yang begitu besar tidak serta merta dapat diikuti dan dimaknai oleh semua lapisan masyarakat dunia. Terjadi kecenderungan, masyarakat lebih sebagai pengguna teknologi. Berbagai dampak negatif semakin dirasakan sebagai akibat penggunaan sains dan teknologi yang tidak dilandasi perspektif, sikap dan nilai-nilai sains.

Oleh karena itulah, perlu ditelusuri kembali sifat alamiah sains  (the nature of science) yang hakekatnya merupakan ilmu yang diilhamkan kepada manusia oleh Allah SWT agar menyadari hukum-hukum alam (Sunatullah) dan dipergunakan untuk kemaslahatan manusia.

Ada tiga bagian yang dibahas mengenai sifat alamiah sains, yaitu pandangan saintis mengenai dunia (the scientific world view), inquiri ilmiah (scientific inquiry) dan  upaya-upaya pengembangan sains (scientific enterprise).

Sepanjang sejarah umat manusia, orang-orang telah banyak mengembangkan sejumlah interkonesi dan memvalidasi gagasannya mengenai dunia fisik, biologi, psikologi dan sosial. Gagasan-gagasan itu telah memberikan peluang secara terus-menerus untuk meningkatkan pemahaman manusia  yang menyeluruh mengenai alam semesta dan lingkungannya. Gagasan-gagasan tersebut dikembangkan secara khusus melalui observasi, berpikir, bereksperimen dan sejumlah pengujian. Cara tersebut merepresentasikan  aspek mendasar dari sifat alamiah sains dan merefleksikan kekhasan sains yang cenderung berbeda dari metode pengetahuan lain.

1.  The scientific world of view (Pandangan Saintis mengenai dunia)

Para saintis memiliki keyakinan dan sikap yang mendasar dalam memandang sifat-sifat alam semesta, sehingga  memungkinkan mereka bekerja dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, yaitu sebagai berikut :

Dunia dapat dipahami

Sains dilandasi anggapan ;  1) kejadian di alam semesta terjadi di dalam pola-pola yang konsisten dapat dipahami melalui  studi yang sistematis dan seksama. Dengan menggunakan akal dan logika serta bantuan instrumen. pola-pola di alam semesta dapat ditemukan ; 2) alam semesta adalah suatu sistim tunggal yang mempunyai prinsip dasarnya sama di manapun.  Pengetahuan yang diperoleh  dari satu bagian dari alam semesta dapat digunakan untuk bagian lain.  Contohnya : prinsip-gerak dan gravitasi yang menjelaskan benda jatuh  ke  bumi dapat  juga menjelaskan gerakan bulan dan planet-planet. Dengan beberapa modifikasi dari tahun ke tahun, prinsip-prinsip yang sama dari gerakan berlaku untuk semua materi yang bergerak (gerak partikel, bintang-bintang, perahu layar, pesawat ruang angkasa, cahaya,dsb)

Gagasan-gagasan ilmiah adalah subyek perubahan

Sains memproduksi pengetahuan melalui proses ilmiah berupa pengamatan yang cermat terhadap fenomena dan menemukan teori-teori yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Perubahan suatu teori atau gagasan-gagasan ilmiah tidak dapat dielakkan karena pengamatan-pengamatan yang baru dapat bertentangan dengan teori-teori yang sudah ada.   Dalam sains, selalu terjadi pengujian, perbaikan, penolakan terhadap teori-teori baru ataupun teori-teori lama.

 Pengetahuan ilmiah bertahan lama

Meskipun  para saintis menolak kebenaran pencapaian absolut dan menerima beberapa ketidak-pastian, namun sebagian besar pengetahuan ilmiah bertahan lama. Modifikasi gagasan paling biasa terjadi dibandingkan dengan penolakan. Dengan memodifikasi gagasan konstruksi pengetahuan menjadi lebih kuat dan bertahan  hingga tumbuh menjadi lebih akurat dengan penerapan yang lebih luas.  Contohnya : dalam merumuskan teori relatifitas, Albert Einstein tidak membuang hukum gerak Newton tetapi menunjukkan  keterbatasan aplikasi hukum itu ke dalam suatu konsep yang lebih umum

Sains memiliki keterbatasan  untuk menyediakan jawaban lengkap semua pertanyaan.

Banyak fenomena yang tidak bisa diuji secara ilmiah. Contohnya :  keyakinan terhadap kekuatan gaib, astrologi, keberuntungan, dll.  Dalam hal ini,  pendekatan ilmiah tidak relevan untuk digunakan.

2. Scientific Inquiry (Inkuiri Ilmiah)

            Pada hakekatnya berbagai disiplin ilmiah  sama dalam hal  meyakini adanya satu kejadian menggunakan hipotesis, teori dan logika. Namun demikian para saintis dapat berbeda dalam hal : a) fenomena yang diselidiki dan cara melakukan kerjanya ; b) keyakinan mereka terhadap data historis atau temuan eksperimen ; c) metode kualitatif dan kuantitatif ; d) sumber yang menjadi prinsip dasar  ; e) berapa banyak menggunakan temuan dari ilmu lainnya.

Pertukaran teknik, informasi dan konsep terjadi setiap saat antara para saintis dan ada pemahaman umum di antara mereka mengenai validitas ilmiah. Inkuiri ilmiah tidak mudah diuraikan terlepas dari konteks partikular  yang  diteliti. Tidak ada langkah-langkah sederhana yang selalu diikuti saintis , karena tergantung pada kajian sains mana yang tengah diselidiki. Dengan demikian perbedaannya terletak pada mode inkuiri.

Meskipun semua hal yang dibahas di atas merupakan karakterisitik kerja saintis professional, setiap orang dapat berlatih inkuiri dan  berpikir  ilmiah mengenai banyak hal yang menarik dalam kehidupan sehari-hari dengan memperhatikan prinsip-prinsip utama pengembangan inkuiri ilmiah yaitu sebagai berikut  :

Sains menuntut adanya fakta-fakta

Validitas suatu pernyataan ilmiah dimantapkan dengan mengacu pada pengamatan terhadap gejala. Untuk mendapatkan data yang akurat, fakta-fakta diobservasi dengan : 1) menggunakan panca indera dan instrumen yang relevan ; 2) dilakukan dalam setting alami (misalnya ; di hutan) atau di laboratorium ; 3) mengobsevasi secara pasif atau aktif (memanipulasi obyek yang diteliti) ; 4) pengontrolan kondisi atau variabel yang berpengaruh (mis : suhu, konsentrasi). Namun pengontrolan variabel sulit dilakukan bila studi misalnya berkaitan dengan bintang-bintang dan manusia.

Sains memadukan logika dan imajinasi

Konsep-konsep ilmiah tidak muncul hanya dari fakta-fakta yang ditemukan. Oleh karena itu saintis menggunakan imajinasi dan logika untuk mengusulkan hipotesis dan teori-teori agar  sesuai  prinsip-prinsip dari penalaran logis sehingga dapat diuji kesahihannya. Kadang-kadang  dalam  penelitian terjadi sesuatu yang tidak terduga, sehingga diperlukan pengetahuan dan kretifitas agar dapat mengenali hasil yang tak terduga tersebut. Suatu data yang telah diabaikan oleh seorang saintis dapat dijadikan petunjuk baru untuk penelitian oleh saintis lainnya.

Sains memberikan eksplanasi dan prediksi. 

Esensi dari sains adalah memvalidasi pengamatan, namun itu saja belum cukup, karena teori-teori hanya cocok untuk pengamatan yang sudah dikenal. Karena itu perlu dilakukan prediksi berdasarkan pola dari fenomena-fenomena yang telah terjadi.  Kredibilitas suatu teori bertitik tolak pada  : a) kemapanannya dalam  memperlihatkan hubungan antara beberapa fenomena yang sebelumnya tampak tidak berhubungan ; b) kemampuan memberikan prediksi antara lain prediksi tentang masa lampau yang sebelumnya tidak ditemukan (mis : teori asal muasal kejadian alam) atau mengenai suatu kejadian yang sulit diamati karena berlangsung lama (mis : teori evolusi bintang) : c) dapat diuji dengan eksperimen sejenis.

Sains berusaha mengidentifikasi dan menghindari bias

Jika dihadapkan pada suatu klaim yang menyatakan kebenaran, saintis meresponnya dengan menanyakan bukti-bukti apa yang mendukungnya. Namun bukti-bukti ilmiah dapat mengalami bias, karena tergantung pada bagaimana data tersebut diinterpretasikan, dicatat atau dilaporkan atau pemilihan kejadian pada saat data tersebut dicatat.  Bias tak dapat sepenuhnya dihindarkan, karena dapat diakibatkan oleh penyelidik, sampel, metode atau instrumen. Namun perlu diketahui kemungkinan sumber bias dan bagaiman dapat berpengaruh terhadap fakta.  Saintis selalu berusaha menghindari bias dalam pekerjaannya ataupun bersama dengan saintis lain. Untuk menghindari bias yang tidak terdeteksi mereka  bekerja bersama-sama agar bisa saling mengontrol pekerjaannya.

Sains tidak menganut paham kepatuhan mutlak

Hal ini tersebut mengandung arti bahwa sains bersifat netral tercermin dari teori-teori nya yang bersifat tentatif.

3. Scientific Enterprise (Upaya-upaya Ilmiah)

Upaya ilmiah sains dapat dilakukan oleh berbagai dimensi baik oleh perorangan, masyarakat sosial, maupun  institusional.  Hal ini karena : 1) sains merupakan aktifitas sosial yang kompleks ; 2) Sains terorganisasi ke dalam disiplin konten dan diselenggarakan oleh berbagai institusi ; 3) Sains menyumbangkan nilai-nilai dan etika ; 4) saintis ikut ambil bagian dalam tata sosial masyarakat , baik sebagai spesialis maupun warga.

PEMBAHASAN

Pada dasarnya memaknai hakikat sains ditujukan untuk menyusun suatu kerangka berpikir mengenai bagaimana sains dapat digunakan untuk mendidik masyarakat agar menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan bijaksana. Sains dan teknologi ibarat satu mata uang dengan dua sisi, satu sisi mengandung hakikat sains (the nature of science) dan sisi lain mengandung makna teknologi (the meaning of technology). Hakikat sains mencakup tiga  aspek, yaitu produk (body of knowledge, prinsip, hukum, teori)), proses (metode ilmiah) dan sikap ilmiah.

Pandangan saintis mengenai dunia memberikan suatu pelajaran,  bahwa upaya mempelajari alam sekitar dapat dilakukan oleh siapapun, karena alam seisinya penuh dengan rahasia tak habis-habisnya. Sains merupakan suatu sistem yang dikembangkan oleh manusia untuk mengenali dunia beserta isinya namun memiliki keterbatasan memahami dunia secara komprehensif, terutama menyangkut hal-hal gaib.

Hakikat sains dapat dituangkan dalam kurikulum pendidikan sains, yaitu pengembangan  literasi sains. Pada konteks ini sains bukan dipandang hanya sekumpulan fakta, namun sains dapat bernilai dan bermanfaat bagi semua orang dalam kehidupannya.  Manfaat yang diperoleh bukan hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup, namun dalam pengembangan karakter dan mental warga dunia. Contohnya :

  • Meskipun inkuiri ilmiah  merupakan karakterisitik kerja saintis professional, setiap orang dapat berlatih inkuiri dan  berpikir  ilmiah mengenai banyak hal yang menarik dalam kehidupan sehari-hari dengan memperhatikan prinsip-prinsip utama pengembangan inkuiri ilmiah.
  • Melalui  inkuiri  ilmiah dapat dibudayakan sikap ilmiah seperti kejujuran, keingintahuan, skeptis, taat asas, kritis dan runut dalam berpikir, tekun, ulet dan penuh tanggung jawab .
  • Semakin luas dan semakin dalam seseorang mempelajari sains, semakin kecil ia merasa sebagai mahluk Allah SWT yang menciptakan alam semesta tak habis-habisnya. Einstein yang semula atheis, karena menekuni sains akhirnya mempercayai adanya Tuhan.

Representational Competence’s Profile of Pre-Service Chemistry Teachers In Chemical Problem Solving


Artikel download di link ini : Representational_Competence_s_Profile_of

Ida Farida, Liliasari, Dwi H. Widyantoro and Wahyu Sopandi  

Abstract :

A preliminary study on the possibility of developing representational competence pre-service chemistry teachers have been done. The aim of this descriptive study was to provide description about representational competence’s profile of pre-service chemistry teachers in chemical problem solving and to give consideration about the learning strategy have been conducted. The results showed that most students were unable to provide explanations relating to the representation of sub-microscopic level, which exist between the macroscopic and symbolic levels of representation. There were tendency those students solved problems using a transformation from the macroscopic to the symbolic level of representation and vice versa. Although they should give explanation at sub-microscopic level of representation, they did not understand the role of sub-microscopic representation to explain the macroscopic level or transformed into symbolic level. Presumably, the lack of student representation competence, because the lectures were held tend to separate the three levels of representation and influence the learning process which they experienced in senior high school. Those problems need serious efforts to find solution.

Key Words : Representational competence, three levels of chemical representation, chemical problem solving

Baca lebih lanjut