Farida'Ch Blog

My Reflection and Creation in Chemical Education

Pembinaan Profesionalisme Guru Melalui Kegiatan lesson Study


Pembinaan Profesionalisme Guru Melalui Kegiatan lesson Study

Disampaikan pada: Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Di Madrasah Aliyah Negeri  se- Wilayah Kabupaten Tasikmalaya,  4 Mei 2013

I. PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia diperlukan upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas para guru. Walaupun bukan satu-satunya pihak yang memiliki peran penting untuk meningkatkan mutu pendidikan, seorang guru memiliki peran yang paling besar, karena inovasi serta peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai di kelas melalui inovasi dalam proses pembelajaran. Guru memegang peran yang sangat strategis dalam usaha pencapaian keberhasilan pembelajaran. Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan kemampuan guru dengan lahirnya Undang-undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa guru profesional harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang disyaratkan. Kualifikasi akademik dapat diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat. Sertifikat pendidik diperoleh guru setelah lulus dalam penilaian sertifikasi. Proses dari implementasi undang-undang tersebut terutama yang berkaitan dengan sertifikasi guru sudah mulai dilakukan pemerintah sejak tahun 2006.

Inovasi dan peningkatan mutu pendidikan merupakan proses yang bekesinambungan dan perlu melibatkan seluruh komponen dalam pendidikan, bukan hanya program pemerintah saja. Upaya perbaikan terus menerus itu, tidak hanya tuntutan dari atas, namun perlu dimulai dari bawah. Peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai dengan meningkatkan mutu guru dalam mengajar dan berprilaku professional (profesionalisme). Selain melalui program sertifikasi, berbagai penataran dan pelatihan guru merupakan bentuk dari upaya pembinaan tersebut.

Selama ini, pembinaan guru lebih banyak dilakukan melalui pelatihan konvensional, dengan blok waktu, perwakilan guru dari kabupaten, diundang ke Bandung untuk dilatih dalam bidang tertentu. Secara parsial pembinaan dilakukan di suatu lembaga pelatihan atau di suatu hotel dalam kurun waktu tertentu. Pembinaan guru melalui pelatihan konvensional ini sudah berlangsung sejak lama. Tidak sedikit dana yang dipersiapkan oleh pemerintah untuk mengadakan pelatihan guru, namun usaha yang dilakukan seringkali kurang signifikan terhadap peningkatan mutu guru. Seringkali hasil pelatihan tidak langsung dapat diaplikasikan dalam keseharian aktivitas guru. Terjadi kecenderungan, guru kembali pada cara mengajar seperti sebelum mengikuti pelatihan.

Diduga penyebabnya karena pelatihan tidak berbasis pada permasalahan nyata kelas atau bersifat top down, materi pelatihan sama diterima oleh guru tanpa mengenal daerah asal, sehingga belum tentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru di daerah dengan kondisi Madrasah yang berbeda. Selain itu, hasil pelatihan tidak tersosialisasikan kepada guru lain yang jumlahnya ribuan di suatu kabupaten, karena tidak ada kesempatan untuk sosialisasi kepada guru-guru lain, Sebagian besar guru di kabupaten tidak pernah memperoleh penyegaran pengetahuan. Dengan demikian sistem pembinaan guru belum sistematik dan berkelanjutan bagi semua guru untuk memutahirkan pengetahuan dan keterampilan dalam membelajarkan siswa di kabupaten/kota sasaran.

Untuk mengatasi kelemahan model pelatihan/penataran guru tersebut, maka tulisan ini menawarkan bagaimanakah upaya peningkatan profesionalisme guru melalui model pembinaan guru yang disebut Lesson Study. Berbeda dengan model pelatihan/penataran guru konvensional yang bersifat top-down, artinya materi pelatihan sudah disiapkan dan diberikan oleh instruktur. Model pembinaan guru melalui Lesson studybersifat bottom-up karena materi pelatihan berbasis permasalahan yang dihadapi para guru di Madrasah, kemudian dikaji secara kolaboratif dan berkelanjutan.

II. LESSON STUDY SEBAGAI MODEL PEMBINAAN PROFESIONALISME GURU

Lesson study pertama kali dikembangkan di Jepang oleh Makoto Yoshida sejak tahun 1960 an. Selanjutnya Lesson study menjadi model yang terkenal dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kualitas pembelajaran. Mulai tahun 1995, Lesson Study menyebar ke berbagai negara tidak terkecuali Amerika Serikat melalui kegiatan The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS).

Menurut Wang-Iverson (2002), lesson study memiliki peran yang cukup besar dalam melakukan perubahan secara sistematik. Di Jepang, lesson study tidak hanya memberikan sumbangan terhadap keprofesionalan guru, tetapi juga terhadap peningkatan sistem pendidikan yang lebih luas. Hal tersebut terjadi karena terdapat lima jalur yang dapat ditempuh lesson study, yaitu 1) membawa tujuan standar pendidikan ke alam nyata di dalam kelas, 2) menggalakkan perbaikan dengan dasar data, 3) mentargetkan pencapaian berbagai kualitas siswa yang mempengaruhi kegiatan belajar, 4) menciptakan tuntutan mendasar perlunya peningkatan pembelajaran; dan 5) menjunjung tinggi nilai guru.

Melalui lesson study guru secara kolaboratif berupaya menerjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di dalam kelas. Mereka berupaya merancang pembelajaran sedemikian sehingga siswa dapat dibantu menemukan tujuan pembelajaran yang dituliskan untuk suatu materi pokok (yang didalam kurikulum kita sekarang berarti siswa dibantu untuk menguasai kompetensi dasar yang diharapkan). Selain itu, guru di Jepang juga memperhatikan aspek lain standar pendidikan nasional mereka yaitu belajar memiliki kebiasaan berpikir ilmiah sebagai upaya mencapai kecakapan hidup. Mereka merancang suatu skenario pembelajaran yang memperhatikan kompetensi dasar dan pengembangan kebiasaan berpikir ilmiah itu dengan membantu siswa agar mengalami sendiri, misalnya pentingnya pengendallian variabel dan juga memperoleh pengetahuan tertentu yang terkait materi pokok yang dibelajarkan. Setelah itu rancangan pembelajaran dilaksanakan, diamati, didiskusikan, dan revisi serta kalau perlu dilaksanakan lagi.

Di Indonesia sendiri, lesson study berkembang melalui Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project (IMSTEP). Pelaksanaannya dimulai sejak tahun 1998 melalui tiga Perguruan Tinggi, yaitu Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Negeri Malang berkerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Oleh karena dari berbagai pengalaman mengimplementasikan lesson study di berbagai Sekolah di bawah Mendikbud telah mencapai hasil yang memuaskan dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di kelas, maka selanjutnya berbagai perguruan Tinggi berbasis Islam dilibatkan pula dalam kegiatan Lesson Study untuk meningkatkan profesionalisme guru-guru di Madrasah.

A. PRINSIP-PRINSIP LESSON STUDY

Bagi yang belum mengenal, lesson study sering disalahartikan sebagai metode atau pendekatan pembelajaran. lesson study bukan metode pembelajaran, juga bukan pendekatan pembelajaran. Lesson study adalah suatu strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning. Bermacam-macam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka, misalnya : ”action research”, “coaching”, dan “clinical supervision”. Dalam hal ini, lesson study dapat juga digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru.

Hal tersebut ditegaskan dalam pengertian lesson study menurut Hendayana dkk (2006:10), bahwa lesson study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.

Dari definisi Lesson study terkandung tujuh kata kunci yang menjadi prinsip utama Lesson Study yaitu: 1) pembinaan profesi, 2) pengkajian pembelajaran, 3) kolaboratif, 4) berkelanjutan, 5) kolegialitas, 6) mutual learning, dan 7) komunitas belajar. Dengan demikian berdasarkan prinsip-prinsip tersebut di atas, Lesson study bertujuan untuk melakukan pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan, melalui pengkajian pembelajaran secara terus menerus dan berkolaborasi.

Pengkajian pembelajaran harus dilakukan secara terus menerus karena beberapa alasan antara lain:
1) Tidak ada pembelajaran yang sempurna, selalu ada celah untuk memperbaikinya,
2) Setiap siswa memiliki hak belajar, sehingga guru harus mengupayakan semua siswa harus belajar, tak ada seorangpun yang ditinggalkan (no child left behind).
3) Pembelajaran harus memperhatikan keseimbangan antara peningkatan kemampuan berpikir, keterampilan dan peningkatan sikap agar terbentuk karakter yang diharapkan.
4) Pembelajaran harus berpusat pada siswa (student centered) secara kolaboratif dalam mengkonstruksi pengetahuan.

Pengkajian pembelajaran dimaksudkan untuk mencari solusi terhadap permasalahan pembelajaran agar terjadi peningkatan mutu pembelajaran terus menerus. Objek kajian pembelajaran dapat meliputi: 1) materi ajar, 2) metode/strategi/pendekatan pembelajaran, 3) LKS (Lembar Kerja Siswa), 4) media pembelajaran, 5) setting kelas, 6) pengelolaan kelas dan 7) teknik asesmen (penilaian).

Pengkajian pembelajaran itu harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan para pendidik (guru, dosen, Kepala Madrasah) yang terkait. Alasan pengkajian pembelajaran harus dilakukan secara berkolaborasi adalah agar lebih banyak masukan perbaikan sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran itu sendiri. Mungkin saja menurut pendapat guru sendiri; rasanya persiapan pembelajaran sudah bagus, namun dengan mendapat masukan dari orang lain dapat meningkatkan mutu persiapan pembelajaran.

Dalam lesson study, guru dapat berperan sebagai model/pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. Hendayana dkk. (2006:10) menegaskan bahwa setiap guru pada kegiatan lesson study berkesempatan untuk melakukan hal-hal berikut ini :
1) Mengidentifikasi masalah pembelajaran.
2) Mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan.
3) Memilih alternatif model pembelajaran yang digunakan.
4) Merancang rencana pembelajaran.
5) Mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih.
6) Melaksanakan pembelajaran.
7) Mengobservasi proses pembelajaran.
8) Mengidentifikasi hal-hal penting yang terjadi dalam aktivitas belajar siswa di kelas.
9) Melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas.
10) Mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya.

Prinsip kolegialitas dan mutual learning (saling belajar) harus diterapkan dalam berkolaborasi ketika melaksanakan kegiatan lesson study. Dengan kata lain, peserta kegiatan lesson study tidak boleh merasa superior (merasa paling pintar) atau imperior (merasa rendah diri), tetapi semua peserta kegiatan lesson study harus diniatkan untuk saling belajar. Peserta yang sudah paham atau memiliki ilmu lebih harus mau berbagi dengan peserta yang belum paham. Sebaliknya peserta yang belum paham harus mau bertanya kepada peserta yang sudah paham.

Keberadaan nara sumber dalam forum lesson study harus bertindak sebagai fasilitator, bukan instruktur. Fasilitator harus dapat memotivasi peserta mengembangkan potensi yang dimiliki para peserta agar para peserta dapat maju bersama. Melalui kegiatan lesson study diharapkan dapat membangun komunitas belajar yaitu membangun budaya yang memfasilitasi anggotanya untuk saling belajar, saling koreksi, saling menghargai, saling bantu, saling menahan ego.

Secara ringkas, gambaran umum dan tujuan utama lesson study serta hubungannya dengan empat kompetensi guru yang diharapkan UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, diperlihatkan dalam bagan berikut ini :

bagan lesson study

Gambar 1. Bagan hubungan tujuan lesson study dengan kompetensi guru (Hendayana, dkk, 2006:39)

B. UNSUR-UNSUR PENYELENGGARA KEGIATAN LESSON STUDY
Seperti yang kita ketahui bersama, sangatlah penting peningkatan kualitas pendidikan dengan cara menciptakan lingkungan belajar yang baik bagi siswa. Namun, jarang kita berpikir tentang lingkungan belajar bagi guru. Sebenarnya, hal yang juga sangat penting adalah menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi para guru, karena guru juga harus belajar untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Secara tradisional, banyak anggapan bahwa pengembangan profesional adalah sebuah peristiwa khusus yang terjadi selama 3 sampai 4 hari selama tahun ajaran, sehingga umumnya diorganisir beberapa pelatihan dan lokakarya sebagai kegiatan khusus. Sebenarnya, pengembangan profesional harus terus-menerus, menjadi tugas guru sehari-hari. Pengembangan profesional bukan sesuatu yang kita harus pertahankan sebagai kegiatan terpisah dari praktek sehari-hari. Kesempatan belajar muncul setiap saat, ketika; suatu proses pembelajaran berlangsung, penilaian diselenggarakan, kurikulum dikaji, pengamatan aktivitas kelas, dan ketika percakapan berlangsung dengan guru lain atau perangkat Madrasah. Jadi, perlu membangun budaya sekolah/Madrasah dimana semua pihak belajar berkesinambungan (siswa, guru, dan perangkat sekolah/Madrasah). Belajar berkesinambungan untuk pengembangan profesional guru hanya mungkin diwujudkan jika Madrasah memiliki “kolegialitas”, “inovasi”, dan “otonomi”.

Paparan di atas menunjukkan bahwa Madrasah merupakan tempat pengembangan profesional guru. Dengan demikian lesson study sebagai kegiatan kolaboratif hendaknya dimulai dari Kepala Madrasah bersama Guru sebagai inisiator. Dalam kegiatan lesson study, Kepala Madrasah memiliki peran yang sangat penting terutama dalam memfasilitasi kegiatan dan sekaligus melakukan peran supervisor-nya. Bentuk pembinaan (supervise) yang dilakukan melalui lesson study dapat menghilangkan kesan pengawasan (inspeksi) terhadap para guru, sehingga para guru akan lebih mudah menerima saran dan kritik dalam usaha perbaikan kualitas pembelajaran.

Siapa saja yang terlibat dalam lesson study tergantung model lesson study yang digunakan. Jika yang digunakan adalah lesson study berbasis Madrasah maka yang terlibat adalah guru-guru dan Kepala Madrasah pada suatu Madrasah. Sedangkan jika lesson study berbasis KKG (kelompok kerja guru) atau MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), maka yang dilibatkan guru-guru dalam suatu gugus kerja (pada bidang studi yang sama). Ada dua peran utama Kepala Madrasah, termasuk juga wakil Kepala Madrasah, dalam kegiatan lesson study berbasis MGMP, yaitu :

Peran 1:
Kepala Madrasah harus memastikan bahwa para guru bisa menghadiri MGMP. Ia harus menyesuaikan beban mengajar dan menanggung biaya transportasi bagi para guru-guru yang menghadiri kegiatan MGMP.

Peran 2:
Kepala Madrasah juga harus turut serta dalam pengamatan dan refleksi, setidaknya ketika kegiatan MGMP diselenggarakan di Madrasahnya sendiri.

Kepala Madrasah dan Wakil Kepala Madrasah dapat memainkan peranan tersebut, bila mengubah persepsi mereka tentang konsep kepemimpinan yang tadinya hanya bersifat administratif, menjadi lebih akademis dan pedagogis.. Tanpa kepemimpinan dan dukungan mereka, para guru akan merasa sulit untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dalam pembelajaran mereka sehari-hari.
Oleh sebab itu, Kepala Madrasah harus senantiasa memonitoring dan memotivasi guru untuk selalu memanfaatkan apa yang dipelajari di Lesson Study dalam kegiatan sehari-hari di Madrasah. Selain itu, mereka juga harus menghadiri kegiatan lesson study sebagai salah seorang peserta, terlebih bila kegiatan tersebut diadakan di Madrasah mereka sendiri.

Secara teknis, Kepala Madrasah dapat menjadwalkan kegiatan lesson sudy untuk setiap Mata Pelajaran melalui MGMP Madrasah pada rapat di awal tahun akademik atau awal semester. Selanjutnya MGMP setiap mata pelajaran membuat perencanaan kegiatan yang meliputi penentuan topik atau bahan ajar, penentuan guru yang akan melaksanakan pembelajaran dan persiapan-persiapan lainnya seperti mendesain alat atau model yang akan digunakan dalam pembelajaran dengan memperhatikan masukan-masukan yang diperoleh hasil kegiatan lesson study sebelumnya atau berdasarkan kajian-kajian inovasi pembelajaran. Dalam kaitan persiapan tersebut MGMP madrasah dan MGMP tingkat wilayah dapat berperan penuh menyiapkan segala hal yang menyangkut aspek pembelajaran.

Kepala Madrasah menyebarkan informasi dan atau undangan kepada pihak-pihak terkait. Penyebarluasan informasi ini sangat penting karena keberhasilan lesson study hanya dapat terpenuhi kalau semua pihak yang dilibatkan dapat mengikuti kegiatan secara penuh dan serius. Jadi dalam pelaksanaannya, berbagai pihak dari dinas terkait, termasuk pengawas juga dapat dilibatkan. Sementara untuk pertimbangan ahli dapat melibatkan dosen dari perguruan tinggi atau undangan lain yang dirasakan perlu dan berkepentingan. Hal ini bertujuan agar terjadi kerjasama ilmiah di antara praktisi pendidikan.

C. TAHAP-TAHAP KEGIATAN LESSON STUDY

Pengkajian pembelajaran melalui Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan, seperti diperlihatkan dalam gambar 2 berikut ini :

siklus LS

Gambar 2. Siklus Pengkajian Pembelajaran dalam Lesson Study

Berdasarkan gambar di atas : Tahapan pertama adalah plan atau perencanaan (secara kolaborasi mencari solusi inovatif atas permasalahan dalam pembelajaran untuk mengaktifkan siswa), tahapan kedua adalah do atau implementasi (ujicoba inovatif pembelajaran pada kelas nyata, seorang guru mengajar dan guru lain mengobservasi/mencatat aktivitas siswa), dan tahapan ketiga adalah see atau refleksi (membahas temuan tentang aktivitas siswa dan merancang tindak lanjut) yang berkelanjutan. Kegiatan tersebut berlangsung secara siklus atau dengan kata lain Lesson studymerupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir.

Berikut ini dipaparkan lebih lengkap tahap-tahap kegiatan lesson study :

1. Tahap Pertama : Plan
Kegiatan lesson study dimulai dari tahap perencanaan yang bertujuan untuk merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa, yaitu bagaimana supaya siswa berpartisipasi aktif dan berpikir dalam proses pembelajaran. Beberapa guru dapat berkolaborasi atau guru-guru dan dosen dapat pula berkolaborasi untuk memperkaya ide-ide dalam membuat perencanaan yang lebih baik.
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan pembelajaran, sebagai berikut :

  • Merumuskan tujuan jangka panjang. Sebelum memulai kegiatan lesson study sebaiknya direnungkan beberapa hal berikut; goal (tujuan) yang ingin dicapai, misalnya dalam tiga tahun ke depan. Mengapa harus mengakaji pembelajaran? Mutu pembelajaran yang diharapkan? Mutu output apa yang diharapkan, apakah pengetahuan, keterampilan, kesadaran belajar, dan/atau sikap ?
  • Pemilihan topik kajian. Topik yang akan dikaji dalam satu semester dipilih berdasarkan kurikulum yang berlaku, topik yang tersedia dan dirasakan sulit diajarkan serta dapat mewakili masing-masing kelas, misal satu topik dari masing-masing kelas (kelas 7, 8, dan 9 untuk SMP/MTs atau kelas 10, 11, 12 untuk SMA/ MA).
  • Analisis permasalahan. Diskusikan permasalahan yang dihadapi dalam membelajarkan topik tersebut berdasarkan pengamalan sebelumnya. Permasalahan dapat berupa materi bidang studi, misal miskonsepsi yang sering terjadi. Permasalahan dapat juga berhubungan antara lain dengan ; 1) pedagogi, yaitu bagaimana mengembangkan metode pembelajaran yang tepat agar pembelajaran lebih efektif dan efisien; dan (2) permasalahan fasilitas, yaitu bagaimana mensiasati kekurangan fasilitas pembelajaran.
  • Merumuskan solusi. Selanjutnya para guru bersama-sama mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Kalau sering terjadi miskonsepsi, diskusikan dulu konsep yang sebenarnya. Kalau diantara yang hadir tidak meyakinkan konsep yang sebenarnya, maka manfaatkanlah fasilitas internet untuk mencari informasi berkenaan dengan konsep yang sedang dibahas. Bila sudah memahami konsep tersebut, kemudian memikirkan bagaimana mengemasnya melalui media yang tepat, sehingga siswa tertarik dan tertantang untuk terlibat dalam belajar. Fokus terpenting mengemas pembelajaran adalah siswa harus difasilitasi untuk berpikir secara aktif. Selanjutnya, pikirkan pula strategi atau cara menyampaikannya sehingga siswa dapat memahami konsep tersebut. Lesson study tidak membatasi hanya pada satu metoda atau strategi. Justru sangat memungkinkan menerapkan beberapa metoda atau strategi pembelajaran. Yang terpenting siswa terlibat dalam belajar dan secara aktif berpikir baik secara mandiri maupun bersama dengan siswa yang lain (disebut juga belajar secara kolaboratif)
  • Merancang pembelajaran. Rencana pembelajaran atau skenario biasanya dituangkan dalam format RPP yang berlaku. Walaupun sudah ada RPP, namun pelaksanaan di kelas bisa berubah bergantung situasi kelas dan harus dilakukan adaptasi. Yang lebih penting, siswa memahami persoalan yang dibahas. Dari rancangan pembelajaran tersebut, dua hal yang harus selalu dipikirkan yaitu tujuan pembelajaran dan prediksi reaksi siswa. Kalau tujuan pembelajaran jelas maka kita tidak akan “tersesat” selama pembelajaran. Dengan memikirkan antisipasi terhadap reaksi siswa, kita dapat merespon reaksi siswa dengan lebih baik. Supaya rancangan lebih terdeskripsikan dengan jelas, sangat disarankan melengkapi RPP dengan rancangan pembelajaran berupa lesson design (format lesson design terlampir)
  •  Penentuan guru model dan rencana open lesson. Selanjutnya adalah menentukan siapa menjadi guru model dan di Madrasah mana open lesson dilakukan? Open lesson dilakukan untuk mengimplementasikan rancangan pembelajaran. Pelaksanan open lesson sebaiknya di Madrasah dan kelas tempat guru model mengajar, sehingga tidak menimbulkan masalah adaptasi. Diharapkan semua guru mendapat giliran menjadi guru model.

Jadi secara ringkas inti dari kegiatan pada tahap plan adalah: (1) melakukan pemilihan topik kajian dan analisis permasalahan dalam pembelajaran (materi ajar, metode/strategi pembelajaran, LKS, media pembelajaran), (2) diskusi pendalaman materi ajar, (3) pengembangan teaching kit (lesson plan, LKS, dan teaching materials), (4) mendiskusikan skenario pembelajaran dan setting kelas, (5) menyusun denah kelas, dan (6) mempersiapkan lembar observasi.

Tahapan kegiatan Lesson Study berbasis Madrasah juga sama dengan di atas. Rencana kegiatan lesson study berbasis Madrasah dapat disusun untuk satu semester yang mencakup pula jadwal open lesson, daftar guru yang akan open lesson, akan lebih baik apabila setiap guru memperoleh kesempatan menjadi guru model minimal setahun sekali. Para guru mata pelajaran di suatu Madrasah, misal guru-guru IPA berkolaborasi melalui koordinasi Kepala Madrasah .

2. Tahap kedua : Do

Tahap kedua dalam Lesson study adalah pelaksanaan (implementasi) pembelajaran untuk mengujicoba rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam tahap perencanaan pada kelas nyata (kelas nyata artinya : tidak memilih siswa-siswa pandai dari beberapa kelas paralel supaya pembelajaran nampak bagus).

Sebelumnya, dalam perencanaan (plan) telah disepakati siapa guru model yang akan mengimplementasikan pembelajaran dan Madrasah yang akan menjadi tuan rumah. Tahapan ini bertujuan untuk mengujicoba efektivitas model pembelajaran yang telah dirancang dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan pembelajaran di kelas masing-masing. Peran guru model dalam open lesson adalah memfasilitasi siswa agar terlibat dalam belajar. Siswa diajak berpikir dan bertukar pendapat dengan temannya. Guru-guru lain dari Madrasah yang bersangkutan atau dari Madrasah lain, Kepala Madrasah, pengawas bertindak sebagai pengamat (observer) pembelajaran. Begitu pun dosen-dosen, mahasiswa, atau komite Madrasah dapat melakukan pengamatan dalam pembelajaran tersebut. Kepala Madrasah (minimal Kepala Madrasah tuan rumah) terlibat dalam pengamatan pembelajaran dan akan lebih baik apabila Kepala Madrasah memandu kegiatan ini. Keberadaan para pengamat di dalam ruang kelas disamping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dan memperoleh inspirasi dari pembelajaran yang sedang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru.

(Lebih lengkap bagaimana tahap do dilaksanakan dapat dilihat pada lampiran : Rambu-rambu Pelaksanaan Open Class)

Perlu diingat, pembelajaran pada saat open lesson bukan “pertunjukan mengajar” yang harus nampak sempurna. Dengan open lesson justru kita akan melakukan perbaikan pembelajaran. Observer di dalam kelas bukan untuk mengevaluasi guru mengajar tapi untuk memperoleh inspirasi yang dapat diterapkan pada kelas kita melalui pengumpulan data tentang aktivitas siswa belajar (siswa mana yang belajar dan mengapa dia belajar ?, siswa mana yang tidak belajar dan mengapa? ).

Seringkali pejabat beranggapan bahwa kegiatan buka kelas dan refleksi adalah kegiatan guru, karena itu hanya gurulah yang berhak melakukan secara intensif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Supaya dapat memahami dan menghayati bagaimana siswa belajar dan permasalahan apa saja yang bersangkutan dengan proses pembelajaran, maka semua yang berkepentingan dengan pendidikan (Kepala Madrasah, wakil, pengawas, pimpinan dan staf Dinas Pendidikan, dosen perguruan tinggi) ikut secara aktif terutama pada waktu pelaksanaan pembelajaran (observasi) dan refleksi.

3. Tahap ketiga : See

Tahap ketiga dalam kegiatan lesson study adalah refleksi. Pelaksanaan dan refleksi merupakan inti dari lesson study. Di kedua tahapan (observasi dan refleksi) itu kita (guru/pengamat) dapat belajar bagaimana siswa belajar, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan apa saja yang diperlukan siswa dalam belajar. Di kedua tahapan itu juga, guru/pengamat dapat menjadi peneliti dengan jalan mengamati dan menganalisis, yang kemudian menyampaikan secara lisan pada waktu diskusi refleksi. Sekiranya pada waktu diskusi refleksi tidak dapat hadir, pengamat dapat menyerahkan catatan refleksinya untuk dibacakan moderator

Diskusi refleksi dilaksanakan langsung setelah tahap do, jangan ditunda hingga keesokan harinya atau pada saat yang lain. Diskusi refleksi dilakukan antara guru dan pengamat yang dipandu oleh Kepala Madrasah atau fasilitator MGMP untuk membahas pembelajaran. Setting tempat duduk dikondisikan sedemikian rupa sehingga semua peserta refleksi dapat saling berinteraksi dengan mudah, misal seting tempat duduk yang melingkar. (Lebih lengkap bagaimana tahap refleksi dilaksanakan dapat dilihat pada lampiran : Rambu-rambu Pelaksanaan Lesson Study).

Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya dan pengamat menerapkan perbaikan pembelajaran di kelas masing- masing, kemudian hasil implementasi di masing-masing kelas di-share dengan teman pada pertemuan berikutnya. Semua kelas paralel harus memperoleh inovasi pembelajaran. Dengan demikian semua siswa di Madrasah sasaran di wilayah MGMP memperoleh dampak dari inovasi pembelajaran.

Dosen pendamping sebagai nara sumber harus memberikan komentar terhadap kegiatan open lesson sebelum kegiatan refleksi diakhiri. Komentar dosen pendamping meliputi aspek materi ajar, pembelajaran, dan Lesson Study. Bagian mana yang sudah bagus untuk dipertahankan dan bagian mana yang perlu perbaikan serta solusi alternatifnya. Keberadaan dosen sebagai nara sumber bukan untuk menceramahi peserta tetapi lebih sebagai fasilitator untuk memfasilitasi agar terjadi sharing pendapat dan pengalaman diantara peserta sehingga komunitas belajar terbangun sebagai forum pengembangan diri.

Kepala Madrasah dan pengawas melakukan pemantauan terhadap hasil kegiatan Lesson Study, apakah terjadi perubahan pada pembelajaran biasa sebagai bahan workshop evaluasi pada akhir semester. Kepala Madrasah dapat mengundang komite sekolah/Madrasah menyaksikan open lesson. Melalui refleksi tersebut sangat diharapkan terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan sesuai dengan prinsip continuous quality improvement.

III. PENUTUP

Lesson study dapat dijadikan alternatif dalam memecahkan permasalahan profesionalisme guru terutama yang menyangkut peran dan fungsi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Program peningkatan profesionalisme guru melalui Lesson studydilaksanakan secara kolaboratif dan mutual learning. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh practical knowledge maupun the wisdom of practice yang muncul selama kegiatan Lesson Study.

Pembinaan profesionalisme guru melalui Lesson studyharus dilakukan secara berkelanjutan agar berdampak terhadap mutu pembelajaran. Untuk menjamin keberlanjutan, maka diperlukan keterlibatan Kepala Madrasah, pengawas, dinas pendidikan, komite Madrasah dan/atau kerja sama dengan pihak perguruan tinggi/dosen sebagai pendamping.

Salah satu faktor kesuksesan Lesson Study sebagai model pembinaan kompetensi guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah bagaimana pihak-pihak yang disebutkan di atas dapat bertemu, menggagas bersama-sama dan kemudian melaksanakan kegiatan Lesson Study. Hal ini terutama, guru dan Kepala Madrasah merupakan ujung tombak penyelenggara kegiatan Lesson Study. Tentunya pihak Madrasah perlu didorong oleh kebijakan dari pemerintah serta diberikan dukungan oleh fasilitator dan pendamping dari Perguruan Tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

JICA-DEPDIKNAS-DEPAG RI. (2009). Panduan untuk Lesson Study Berbasis MGMP dan Lesson Study Berbasis Sekolah. Program Peningkatan Kualitas SMP/MTs (PELITA SMP/MTs)

Rock, Tracy C. & Cathy Wilson (2005). Improving Teaching through Lesson Study. Teacher Education Quarterly. [online]: Tersedia di: http://www.teqjournal.org (diakses 17 januari 2013).

Richardson, J. 2007. Lesson Study, Teacher Learn How To Improve Instruction. National Staf Depelovment Council. (Online). http://www.nsdc.org di akses 23 Mei 2008

Sumar Hendayana., dkk. (2006). Lesson Study Suatu Strategi Untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP- JICA). Bandung: UPI Press.

Wang-Iverson, P. (2002), “Why Lesson Study?” in Papers and Presentations: An Introduction from RBS Lesson Study Conference 2002. (www.rbs.org/lesson_study/conference/2002/papers/wang.shtml).

LAMPIRAN :

Rambu-rambu pelaksanaan OPEN CLASS

RAMBU-RAMBU PELAKSANAAN OPEN CLASS

Langkah-langkah pelaksanaan (Do) :

  1. Sebelum pembelajaran dimulai, denah tempat duduk siswa perlu dimiliki oleh para pengamat dan setiap siswa perlu memakai  name tag,  agar pada saat pengamatan dapat mencatat dengan pasti nama dan posisi tempat duduk siswa yang diamati.
  2. Dilakukan briefieng kepada para pengamat dengan agenda berikut:
  • Guru    model    menginformasikan    rancangan    pembelajaran    secara singkat, yang meliputi: topik, kelas, tujuan/target pembelajaran, rencana skenario pembelajaran.
  • Mengingatkan sikap pengamat selama pembelajaran berlangsung, antara lain : pengamat tidak mengganggu kegiatan pembelajaran, tidak ngobrol sesama pengamat, tidak keluar masuk kelas, mengkondisikan HP tidak berbunyi, tidak menghalangi pandangan siswa. Pengamat berdiri (kecuali yang sakit) di sebelah kiri, sebelah kanan, dan di belakang dalam ruangan kelas.
  • Menginformasikan posisi para pengamat: yaitu untuk  mengambil tempat di ruang kelas yang memungkinkan dapat mengamati aktivitas siswa, namun tidak menghalangi pandangan/ aktivitas siswa ke siswa lain dan ke guru. Para pengamat berdiri di sisi kiri dan kanan di dalam ruang kelas agar aktivitas siswa teramati dengan baik. Ketika siswa sedang diskusi kelompok pengamat dapat mendekati siswa untuk mendengar pembicaraan dalam diskusi dan segera kepinggir ketika guru menginterupsi untuk memberi penjelasan, sehingga pendangan siswa tidak terhalangi.
  • Menginformasikan hal-hal penting yang perlu diamati dan dicatat pengamat selama pembelajaran berlangsung: yaitu mencatat   aktivitas siswa selama pembelajaran dengan fokus pengamatan terhadap: (1) apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya?, (2) adakah siswa yang tidak belajar dan mengapa tidak belajar?, (3) bagaimana usaha guru memotivasi siswa yang tidak belajar? (dapat disediakan lembar catatan observasi agar pengamat tidak kehilangan fokus pengamatan – format terlampir)
  • Memperkenankan para pengamat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan studi lebih lanjut dengan catatan cameramen atau lampu camera tidak menganggu atau menghalangi aktivitas siswa.

Sikap yang Diperlukan Sebelum Memulai Kegiatan Lesson study

Untuk dapat memulai kegiatan lesson study maka di perlukan perubahan dari dalam diri guru sehingga memiliki sikap sebagai berikut: Semangat introspeksi terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini terhadap proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan mengajukan pertanyaan terhadap diri sendiri dengan pertanyaan seperti:

  • Apakah saya sudah melakukan tugas sebagai guru dengan baik?
  • Apakah pembelajaran yang saya lakukan telah sesuai dengan kompetensi yang diharapkan akan dicapai siswa?
  • Apakah saya telah membuat siswa merasa jenuh dengan pembelajaran saya?
  • Adakah strategi-strategi lain yang lebih baik yang bisa digunakan untuk melaksanakan pembelajaran ini selain strategi yang biasa saya gunakan?
  • Apakah ada alternatif kegiatan belajar lain yang juga cocok untuk pembelajaran ini?
  • Adakah media pembelajaran yang lebih baik yang dapat dipakai untuk pembelajaran ini selain media pembelajaran yang biasa saya gunakan?
  • Mengapa siswa saya tidak termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dari saya?
  • Apakah selama ini saya telah menggunakan instrumen evaluasi yang tepat?

Serangkaian pertanyaan itu yang harus dijawab dengan jujur oleh setiap guru yang ingin terlibat/dilibatkan dalam kegiatan lesson study. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas tentu akan mendorong guru pada proses pencarian cara untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan PBM-nya selama ini.

 TAHAP REFLEKSI :

  1. Guru model mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan-kesan dalam melaksanakan pembelajaran, sejauh mana harapannya tercapai.
  2. Selanjutnya pengamat diminta menyampaikan komentar berdasarkan fakta (mendahulukan fakta daripada opini) yang diperoleh dari pengamatan untuk menjawab pertanyaan : 1) apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya?, 2) adakah siswa yang tidak belajar dan mengapa tidak belajar?, 3) bagaimana usaha guru memotivasi siswa yang tidak belajar? Pengamat harus memberikan solusi Kritik dan  saran yang disampaikan oleh pengamat untuk  guru  disampaikan  secara  bijak  demi perbaikan pembelajaran. Sebaliknya, guru harus dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya.
  3. Pemandu mengangkat isu yang perlu didiskusikan dan meminta pendapat pengamat lain untuk menanggapinya. Pemandu tidak perlu menyimpulkan pendapat-pendapat para pengamat, biarkan saja sebagai alternatif solusi untuk perbaikan pembelajaran.

Contoh format lesson design dan lembar observasi

Contoh format lesson design

Contoh Leson design

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/09/2013 by in Kegiatan pengabdian and tagged , .

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.205 pengikut lainnya

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.205 pengikut lainnya

September 2013
M S S R K J S
« Nov   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 138,094 hits

Arsip

Masukkan alamat E-mail Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.205 pengikut lainnya

My facebook

%d blogger menyukai ini: